Kesayanganku yang cantik dan nggemesinnya diatas normal


“Abi, mandi bola yuk?”

“hayuk..” aku menjawabnya sambi lalu. dia menyodorkan kartu main. “ini mah buat main di Giant, Beb.. ntar kita yang di tiptop saja..”

“oh titop..”

aku masih asik nonton TV sambil makan gorengan.. nggak beberapa lama kesayanganku kembali ngajak main mandi bola dengan suara agak keras dari ruang tengah.

“iya Sayang.. baru jam berapa.. nanti bukanya jam sebelas..” aku menjawab dengan suara agak keras juga.

sudah pukul 10:00, karena si kecil yang nggemesin itu nggamil ngajak mandi bola mulu, akhirnya kami berangkat ke tiptop lebih awal. Nahwa (my baby) lari ke depan langsung nangkring di motor, aku bersiap memakai jaket dan ambil helm.. 

“sayang turun dulu, Abi mundurin motornya..” sambil mengangkatnya turun dari dasbor motor maticku. 

“Abi mundur dulu ya, Sayang naiknya disana” tanganku memberi isyarat dimana dia harus naik.

“tapi Abi jangan jalan dulu ya..”

“hahaha.. ya nggak lah Cinta..” anak ini memang suka mengeluarkan kalimat yang menggelitik. seperti saat aku minta Uminya menyiapkan irisan buah sebagai bekal. belum juga selesai mengiris sesuai porsi, mulutnya sudah berceloteh macam-macam memberikan arahan, sampai mungkin karena dia tak sabar ingin segera berangkat, Uminya belum menyelesaikan tugasnya sudah di cut saja.. “sudah sudah Mi, ini cukup kok. sudah ya..” aku mendengar itu dari ruang depan ketawa gemes sendirian..

mungkn dia sudah mulai bosan dengan permainan yang ada, begitu sampai area main, bukan langsung lari ke kolam mandi bola seperti yang diocehkan di rumah, dia malah ke arena anak dewasa (maksudnya anak-anak yang sudah besar). dengan merengek minta dibantu, dia menjajal satu persatu semua permainan yang ada. dari protes kenapa TV(screen maksudnya)nya nggak nyala, kenapa ini begini, kenapa ini begitu, ini utk apa, ini mainnya bagaimana, sampai ketakutan pada mainan yang mainnya pake palu, apa itu namanya lupa, yang kalau monyetnya keluar terus di pukul pakai palunya.. ya itulah pokoknya..

sampai akhirnya aku sedikit lega karena dia minta pindah area.. “kesana yuk, Bi..” sambil menunjuk arah yg dimaksud, langsung kuayunkan langkah keluar.. huwh akhirnya.. setidaknya otak Abi bisa rehat sejenak mencari jawaban atas pertanyaan2mu yang beruntun ya, Yang.. kwkwkk..

tertambatlah dia di pasir warna.. jika biasanya langsung duduk, kali ini dia mencari embaknya, embak penjaga stand pasir warna. dia menyodorkan tangannya, kayaknya Sayangku agak lupa kalau penyemprotan antiseptik setelah selesai main.. aku membiarkannya, sudah kutebak Mbaknya pasti menoleh kearahku, aku balas tatapan penuh tanya itu hanya dengan anggukan penuh senyum sumeh, benarlah si Mbak memahami anggukan sambil senyumku.. my Baby pun mendekat ke meja pasir yang disalah satu sisinya aku sudah siap menunggu..

“Sayang.. disemprot dan di tisuin itu setelah main, tujuannga supaya pasir dan kumannya pergi.. Sayang tadi minta dibersihin sama Mbaknya ya? aku menatapnya lekat-lekat dengan nada lembut bercampur tawa yang terkikih.. dan dia seakan nggak menganggap penting apa yang aku ucapkan itu, dia lebih serius mengisi pasir ke cetakan seperti benteng, dengan sesekali menepuknya.. aku meraih HP dan mengabadikan moment itu.

ini adalah mobil ke-4 setelah sebelumnya minta 2 motor, motorpun minta minta yang warna pink, setelah mencoba pink dengan on/of maju mundurnya seperti stopkontak, bukan yang diinjak atau pakai remot, dia nggak nyaman dan minta ganti yang lain. mencoba motor yang lain dengan gas diinjak, masih minta ganti juga.. ya aku memaklumi sih, seusianga memang belum bisa mengendalikan permainan yang ini, tapi anakku ini cerdas dan nyantolan juga anaknya, minggu kemarin aku dorong saat dia naik sepeda kecil diarea mandi bola, aku dorong dan menguruhnya untuk mengendalikan kemudi, baru beberapa putaran dia sudah bisa milih jalur supaya nggak nabrak. makanya dikesempatan ini pas dia minta naik mobil-mobilan aku pilihkan yang nggak pakai remote, tidak seperti sebelum-sebelumnya.. dan ternyata masih belum menikmati dia, terlihat dia bingung dan tak menikmati, sampai terakhir minta ganti mobil yang ini pun hanya jalan beberapa jengkal.. yowislah, main yang lain yuk Sayang..

sebelumnya dia tak minat dengan permainan ini, karena memang susah, penggeraknya ada dua tuas yang masing-masing tuas memiliki empat fungsi. akhirnya ya bapaknya yang main.. ahaha.. tentunya dengan direcokin sampai selang air pengait tausnya bocor.. kwkwk..

dan akhirnya tepar juga my little angel, kubawa pulang dalam keadaan teler.. kwkwk..

Advertisements

pemaknaan sedekah yang salah

sedekah, saya beberapa kali mendengar ceramah atau motivasi membahas hal ini. banyak dikemukakan bahwa ingin kemakmuran, kesejahteraan, keberlimpahan harta. maka banyak-banyaklah bersedekah. semakin besar nominal sedekahmu maka semakin besar pula keberlimpahan yanh didapat. tak usah ragu. yakinlah bahwa sedekahmu akan mendatangkan keuntungan yang melimpah atas dirimu.

orang kian banyak menerapkan ini, sedekah sana sini, tidak hitung-hitungan, bahkan ada yang terkesan gila-gilaan menyedekahkan hartanya. namun dari sekian banyak yang menerapkan itu, ternyata tidak sedikit yang murni memahami arti sedekah. mereka jadikan sedekah seakan proyek, dimana mereka kehilangan esensi sedekah itu sendiri, niatnya sudah berubah, bukan untuk mencari pahala tapi mencari keuntingan.

sedekah yang mereka keluarkan mereka anggap investasi jangka pendek, yang ketika sedekah sekarang, pundi-pundi hartanya akan bertambah besok. tak jarang akhirnya pelaku sedekah menjadi bangkrut, karena sedekahnya mereka hitung bisnis. harapannya sudah pada kembalinya nominal-nominal dalam jumlah yang lebih besar seperti pehamannya yang diuraikan sang ustadz.

mereka lupa bahwa sedekah adalah bentuk melepas, melepas dekat sekali dengelan esensi ikhlas, ikhlas bisa juga termakna hilang. karena tak ada pengharapan itu menjadi kembali. Saya yang masih belajar sedekah dalam sekala sangat kecil, dan itupun belum totalitas. sangat empati, kasihan juga. pada pelaku-pelaku sedekah yang sampai bangkrut itu. semoga mereka yang demikian itu lekas diberi kelapangan hati dan segera mengerti esensi sedekah yang sebenarnya.

tentang lingkar perut

apa yang dilakukan para empunya perut berukuran diatas normal saat memakai sarung, terlihat berbeda dengan pemilik perut dengan diameter ideal. setidaknya saya sekarang mengerti kenapa para empunya perut buncit dan agak buncit melipatkan sarungnya diatas perut. ternyata memang terasa lebih nyaman berada disitu, lain cerita untuk anak kecil, remaja, atau mereka yang punya perut sixpack, pelipatan sarungnya ditempatkan persis di pinggang. kalau saya dulu mendekati rambut jembay.

Saya jadi semi khawatir kalau-kalau perut Saya semakin membesar, bisa sulit bermain sama bojo kalau berhadapan, yang ada perang perut. terlepas dari itu, nampaknya ini bentuk kesejahteraan selama ini. mungkin pembesaran lingkar perutku adalah alarm untuk senantiasa bersyukur, setidaknya akumulasi nikmat yang mengendap menjadi lemak adalah bukti yang tak terpungkiri. bahwa kian hari kian makmur, tidak kurang makan, pengin jajan tinggal jajan, kecuali jajan dipinggir jalanan cipinang. itu jajanan yang Saya hindari, takut kecanduan. belum lagi kesehatan, yang ketika akan dilanda meriyang cukup diobati dengan makan martabak yang banyak, sop buah yang banyak, degan ijo nganti kembung, dan banyak lagi makanan-makanan enak lainnya. kurang baik apa coba Gusti Allah..

tapi jika ditakdirkan gemuk, ya Allah tolong gemuknya di bagian-bagian yang bisa membuat saya tampak seperti model iklan elmen. plisss.. 

tapi ini masih bisa sih mengencangkan lipatan sarung di bawah perut. hehe.. terimakasih, Allah.. hidup Saya penuh nikmat..

perbedaan

Foto Izhar Piyo Isnanto.

merekalah yang sering menyadarkan betapa pentingnya perbedaan, setelah hampir mencapai kepala satu dalam kancah pendidikan, beberapa tahun terakhir ku menyadari perbedaan adalah suatu yang hak, yang musti ada.
.
ketika dulu ku menginginkan semua anak didikku harus anteng semua, harus pinter semua, harus cerdas semua, bla bla bla bla.. semua harus sesuai dengan kriteria otakku.
sekarang mulai menyadari dan menikmati setiap keunikan yang mereka bawa, tak jarang sikap khasnya menyibak tawa di dada.
yang kemarin aku bentak “sayang kamu tak boleh seperti itu!!”, hari ini sudah mampu memeluk jabat tanganku dengan kasih murni, yang kemarin kuberi muka mbesengut tanda tak setuju dengn kenakalannya, hari ini dia memberi senyum cerah sambil lari menujuku. ah aku sayang kalian semua tunas2 bangsaku..
.
jika ada diluaran sana tak paham betapa indahnya keberagaman, silahkan main kesini untuk sekedar mengamati dan menikmati kelucuan-kelucuan mereka.

ditanya ini itu serb tau. Ustat atau Dukun?

kembali mulut ini asik dengan smokenya, setelah sekian lama dicampakan.

selain ini sebagai alat relaksasi, udud adalah alibiku untuk menghindari pose mlongo seperti kambing conge(padahal gue gak pernah liat kambing conge gimana, abaikan), atau setidaknya jepitan ditangan sambil jempol menahan dahi yang sepaneng terlihat sedikit keren, ya gak kaya meratapi nasib banget gitu lah.

jadi kemaren itu, aku yang pernah kuliah dijurusan teknik informatika, dan sekarang memang menjadi guru TIK, mendapat mandat secara mendadak untuk membuat hal yang aku newbie dalam hal tsb.
dengan waktu yang begitu singkat kuharus melahap project itu dg hasil maksimal.. maygatt.. telapak tanganku langsung melesat cepat nempel dijidat.. kukerjakan itu dengan terlebih dahulu menjelaskan kemampuanku yang bukan profesional dalam hal itu, ya Alhamdulillah terlaksana dengan respon baik.. semoga respon itu bukan ekting utk menghargai hasil yg jelek yah.. haha..
saat2 penggarapan project utulah berbatang-batang rokok setia menemani.

jadi teringat momok.. pake ‘o’ ya.. awas aja diganti ‘e’!!.

jadi begini guys, sudah bukan rahasia lagi bahwa momok bagi mahasiswa atau mantan mahasiswa IT, adalah dianggap pasti memahami segala hal yang berkaitan dengan teknologi.
dari harga HP all varian, sampai remot tipi nggak bisa dipencet, orang IT dianggap wajib tau..

dulu awal ku menjadi mahasiswa IT, masih seumur jagung belajar dunia informatika, jika ada pertanyaan berkaitan itu pasti kujawab, gapeduli aku buka google sampe buka puluhan new tab, pokoknya harus bisa jawab, bisa anjlok reputasi sebagai mahasisea teknik. dulu, dulu banget.. hahaha..

dan sekarang.. jika ada yang nanya perihal harga alat elektronik atau cara benerin radionya yang mati haha.. saya jawab “maap”.. silahkan pergi ke toko elektronik dan cari tukang servis.. 😂
maap karena sekarang aku sudah tak perduli jika ada yang bilang IT abangan, orang IT tp gitu aja gabisa, orang IT tapi nggak bisa nge-hack..
bodo amat!!! gakpeduli..!!! hahaha..
karena sekarang aku paham, yang bisa melontarkan kalimat2 semacam itu adalah mereka yang sangat awam dalam dunia informatika, yang sangat rendah ilmunya dalam dunia teknologi. jadi dikiranya ilmu teknologi informasi tidak terpecah menjadi sekian banyak konsentrasi.

dan sekarang aku sedang berfikir begini, bisa jadi untuk para pakar agama pun begitu. para Ustadz, pasti sering mendapatkan pertanyaan2 yang beragam mengenai agama, dan bukankah dalam ilmu agama juga cukup kompleks jika digubah?
mungkin ada yang passionnya di bidang fiqh, mungkin bagian tauhid, mungkin bagian tafsir, dan masih banyak lagi..

aku sedang berfikir, para Ustadz yang mendapat begitu banyak ragam jenis pertanyaan dari perkara remeh-temeh sampai permintaan solusi hidup yang kompleks itu, yang selalu bisa menjawab, apapun pertanyaannya selalu dijawab, dan tidak sedikit dengan nada meyakinkan bahwa itulah jawaban yang benar.
apa mungkin Ustadz yg seperti ini berada pada fase sepertiku saat awal nyemplung di dunia informatika?
apakah jika Ustadz ini tak menjawab atau menjawab “saya tidak tau” takut orang2 melabeli dirinya sbg Ustadz abangan? sama sepertiku juga dlu yg takut dibilang IT abal2.

ah ini hanya pikiranku saja mungkin, semoga para pegiat agama, para pendakwah, para mubaligh di dunia ini, wabilkhusus di bumi Pertiwi Indonesia ini. selalu diberi kompetensi ilmu yang memadai, untuk menunjukan aturan hidup sesuai Wahyu-NYA..
dan jika ada yang belum memahami terkait persoalan yang diajukan padanya, diberi kekuatan untuk menjawab “saya tidak tahu”.

oh iya, silahkan disambung lagi ududnya.. 😂

amplop abu-abu

oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Kejadian ini mula-mula aku anggap biasa, tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Sudah lima-enam kali kejadian itu, jadi sudah cukup alasan untuk tidak menganggapnya sesuatu yang kebetulan.Di bulan-bulan tertentu, sebagai mubalig, aku harus keliling ke daerah-daerah, memenuhi permintaan mengisi pengajian.

Bulan Muharram memberi pengajian dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah. Bulan Mulud, Rabi’ul Awal, dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bulan Rajab, dalam rangka Israk Mikraj. Bulan Sya’ban,dalam rangka Haflah Akhir Sanah atau Ruwahan. Bulan Ramadan, dalamrangka Nuzulul Qur’an. Bulan Syawal dalam rangka Halal –bi-Halal.

Belum lagi pengajian-pengajian dalam rangka Walimah Perkawinan, Khitanan, dan lain sebagainya. Capek juga.

Kadang-kadang ingin sekali aku menghentikan kegiatan yang menguras energi ini. Bayangkan, seringkali aku harus menempuh jarak ratusan kilometer dan tidak jarang lokasi pengajian sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat, hanya untuk berbicara sekitar satu jam. Kemudian setiap kali pulang larut malam, galibnya menjelang Subuh baru sampai rumah.

Tentu saja tak pernah ada yang menyambut kedatanganku, anak-isteri masih tidur.Kalau pengajian-pengajian itu jelas pengaruhnya pada jamaah sih tidak masalah. Ini tidak.

Pengajian-pengajian yang begitu intens dan begitu tinggi volumenya itu sepertinya hanya masuk kuping kanan dan langsungkeluar lagi dari kuping kiri.Tak membekas.

Buktinya mereka yang bakhil ya tetap bakhil, yang hatinya kejam ya tetap kejam, yang suka berkelahi dengan saudaranya ya masih tetap berkelahi, yang bebal terhadap penderitaan sesama juga tidak kunjung menjadi peka, yang suka menang-menanganya tidak insaf.

Pendek kata, seolah-olah tidak ada korelasi antara pengajian dengan mental mereka yang diberi pengajian. Kadang-kadang aku berpikir, apakah masyarakat kita ini suka pengajian hanya seperti hobi saja. Kelangenan.

Mungkin juga karena mubalig sering mengemukakan besarnya pahala mendatangi pengajian tanpa lebih jauh menjelaskan makna “menghadiri pengajian” itu.

Jadi, orang menghadiri pengajian “sekedar” cari pahala. Yang penting hadirnya, tak perduli hadir terus tidur, melamun, ngobrol sendiri, atau hanya menikmati kelucuan dan “keberanian” mubalignya.

Kok tidak ada ya yang mensurveikejadian ini, misalnya meneliti sejauh mana pengaruh ceramah agama terhadap perilaku masyarakat yang menerima ceramah, pengaruh positifnya apa, negatifnya apa, dan sejauh mana peranannya dalam memperbaiki mental masyarakat? Tapi baiklah.

Biarkan aku bercerita saja tentang penglamanku.

Mula-mula kejadian yang kualami aku anggap biasa. Tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Biasanya setiap selesai memberi pengajian selalu saja aku harus melayani beberapa jama’ah yang ingin bersalaman denganku.

Pada saat seperti itu, sehabis memberi pengajian di satu desa, ada seseorang yang memberi salam tempel, bersalaman sambil menyelipkan amplop berisi ke tanganku.

Pertama aku tidak memperhatikan, bahkan aku anggap orang itu salah satu dari panitia. Setelah terjadi lagi di daerah lain yang jauh dari desa pertama, aku mulai memperhatikan wajah orang yang memberi salam temple itu.

Pada kali-kali lain setelah itu, di tempat-tempat yang berbeda dan berjauhan, kulihat memang yang memberi salam tempel orangnya yaitu-itu juga.

Orang yang selalu memakai baju hitam-hitam. Wajahnya yangbersih dan senyumnya yang misterius itu kemudian terus membayang.

Dia selalu hanya mengucapkan salam, tersenyum misterius, dan bersalaman sambil menyelipkan amplop. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Amplopnya selalu sama. Buatan sendiri dan berwarna abu-abu. Jenis warna kertas yang aku kira jarang ada di desa-sesa.Aku tak habis pikir, bagaimana orang itu bisa selalu ada dalam pengajian yang tempatnya berjauhan.

Aku bukanlah mubalig kondang yang setiap tampil di pengajian diberitakan pers. Bagaimana orang itu bisa hadir ketika aku mengisi pengajian di sebuah dusun terpencil di Jawa Timur dan hadir pula di pengajian yang dilaksanakan di sebuah desa di ujung barat Jawa Barat, lalu hadir pula ketika di luar Jawa?

Darimana dia mendapat informasi?

Atau dia selalu membuntutiku?

Tidak mungkin. Musykil sekali.

Setiap kali aku mendapat “amplop”, dari mana atau dari siapa saja, aku tidak pernah membukanya. Langsung aku berikan isteriku.

Aku tak ingin hatiku terpengaruh oleh isinya yang mungkin berbeda-beda satu dengan yang lain, lalu tumbuh penilaian berbeda terhadap pihak –pihak yang memberi amplop.

Apalagi jika kemudian membuatku senang dan selalu mengharap menerima amplop. Na’udzu billah. Namun setelah enam kali berjumpa dengan lelaki berpakaian hitam-hitam itu, tiba-tiba aku ingin sekali mengetahui isi amplop-amplopnya yang diselipkannya di tanganku setiap usai pengajian-pengajian itu.

“Bu, kau masih menyimpan amplop-amplop yang kuberikan kepadamu?” aku bertanya kepada isteriku.

“Sebagian masih” jawab isteriku, “sebagian sudah saya pakai mengamplopi sumbangan-sumbangan yang kita berikan kepada orang.”

“Coba kau bawa kemari semua!”

Isteriku memandangiku agak heran, tapi dia beranjak juga mengambil amplop-amplop bekas yang ia simpan rapi di lemari pakaiannya.

“Banyak juga,” pikirku sambil menerima segepok amplop yang disodorkan isteriku.

Isteriku memandangiku penuh tanda tanya saat aku mengacak-acak amplop-amplop itu seperti mencari sesuatu.

“Ini dia!” kataku, membuat isteriku tambah heran.

Aku menemukan amplop-amplop persegi empat berwarna abu-abu yang kucari, lima buah jumlahnya.

“Lho, yang seperti ini Cuma ini, Bu? Hanya lima?”

“Ya nggak tahu,” sahut isteriku.

“Memangya ada berapa? Setahuku ya cuma itu.

Aku tidak mengusutnya lebih lanjut, mungkin justru aku yang lupa menghitung pertemuanku dengan lelaki misterius itu, lima atau enam kali. Aku memperhatikan dengan cermat lima amplop abu-abu itu.

Ternyata di semua amplop itu terdapat tulisan berhuruf Arab kecil-kecil, singkat-singkat, dan masing-masing ada tertera tanggalnya.

“Ada apa, Pak?” Tanya isteriku tertarik sambil duduk di sampingku.

Aku tak menghiraukan pertanyaannya. Aku mencoba mengurutkan tanggal-tanggaldi lima amplop itu.

Kemudian membaca apa yang tertulisdi masing-masing amplop secara berurutan sesuai tanggalnya. Aku kaget. Semuanya justru nasihat untukku sebagai mubalig yang biasa mensihati orang.

Aku pun menyesal mengapa amplop-amplop itu tidak aku buka pada waktunya.Amplop pertama kubaca:

“ ‘Ud’uu ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanah (Ajaklah orang ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik). Genuk, Semarang, 8 Juli 2001.

”Amplop kedua: “Sebelum Anda menasihati orang banyak, sudahkah Anda menasihati diri Anda sendiri? Cilegon, 11 Juli 2001.

”Amplop ketiga: “Amar makruf dan nahi munkar seharusnya disampaikan dengan cara yang makruf juga. Beji, Tuban, 10 September 2001.

”Amplop keempat: “Yasirruu walaa tu’assiruu! (Berikan yang mudah-mudah dan jangan mempersulit!). Duduk, Gresik, 4 Januari 2002.

Dan amplop kelima: “Ya ayyuhalladziinaaamanu lima taquuluuna malaa taf’aluun! (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya?.Besar sekali kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya!).Batanghari, Lampung Timur, 29 April 2002.

”Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang pernah aku ceramahkan di tempat-tempat di mana aku menerima amplop-amplop itu.

Ternyata aku tidak bisa mengingatnya. Bahkan aku tidak ingat apa saja yang aku bicarakan pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Ternyata aku lupa semua yang pernah aku katakan sendiri.

Ah.Siapapun orang itu—atau jangan-jangan malaikat—aku merasa berutang budi. Sebagai mubalig, pekerjaanku hanya memberi nasihat.

Jadi memang jarang sekali aku mendengarkan nasihat.

Aku sungguh bersyukur ada yang menasihatiku dengan cara begitu, sehingga sebagai mubalig, aku tidak perlu kehilangan muka.

Aku jadi mengharap mudah-mudahan bisa bertemu lagi dengan lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah bersih itu di pengajian-pengajian mendatang.

“Kau masih ingat isi dari amplop-amplop ini?” tanyaku pada isteriku yang masih seperti bingung memperhatikanku.

“Siapa yang tidak ingat isi amplop-amplop itu?

Kalau yang lain mungkin aku lupa. Tapi amplop-amplop warna abu-abu itu aku tidak bisa lupa. Soalnya semua isinya sama, selalu dua ratus ribu rupiah.

Malah semuanya masih saya simpan.”“Masih kau simpan?” kataku kaget campur gembira.

“Jadi semuanya masih utuh? Berarti semuanya ada satu juta rupiah?”

“Ya, masih utuh. Wong aku tidak pernah mengutik-utik uang itu. Rasanya sayang, uangnya masih baru semua, seperti baru dicetak. Aku simpan di bawah pakaian-pakaianku di lemari,” ujar isteriku sambil beranjak ke kamarnya, mau mengambil uang yang disimpannya.

Aku menunggu tak sabar. Tak lama kemudian tiba-tiba,

“Paaak!” Terdengar suara isteriku berteriak histeris.

“Lihat kemari, Pak!”

Aku terburu-buru menghambur menyusulnya ke kamar.

Masya Allah.

Kulihat lemari pakaian isteriku terbuka dan dari dalamnya berhamburan uang-uang baru seratus ribuan, seolah-olah isi lemari itu memang hanya uang saja. Isteriku terpaku dengan mata terbelalak seperti kena sihir, melihat lembaran-lembaran uang yang terus mengucur dari lemarinya.

Dalam takjubku, aku sendiri masih melihat sebuah amplop abu-abu ikut melayang di antara lembaran-lembaran uang itu. Aku segera menangkapnya

Nah, ini dia yang satu lagi. Jadi benar hitunganku, enam kali aku bertemu lelaki itu. Ini amplop keenam.Tanpa mempedulikan istriku yang masih bengong memandangi lembaran-lembaran uang yang berterbangan, aku amati amplop itu seperti mengamati amplop-amplop lainnya tadi.

Dan ternyata di sini juga terdapat tulisan Arab kecil-kecil.

Isinya, “Wamal Hayaatud Dun-ya illa mataa’ul ghurur! (Kehidupan duniawi itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan!). Arafah, 9 Dzulhijjah 1418.

”Tidak seperti amplop-amplop lainnya, yang satu ini juga ada tertera namadan tanda tangan, “Hamba Allah, Khidir!”

Tahun 1418 aku memang naik haji, tapi aku tidak ingat pernah bertemu lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah jernih itu.

Rasanya di Arafah semua orang berpakaian putih-putih.

SubhanAllah!
_________________________
Disadur dari buku beliau, Kumpulan Cerpen “Lukisan Kaligrafi”-

muridku

Syifa, gadis kecil kelas 4 SD yang seringnya terlihat biasa saja saat mengikuti pelajaranku.
pada hari dimana Tema kegiatan membahas Makhluk hidup, kuminta anak-anak ku menceritakan tentang Hewan di program pengolah kata, lengkap dengan design, font style, dan tools yang kubebaskan. kecuali font size, kubatasi 14 untuk teks dan 18 untuk judul.
Foto Izhar Piyo Isnanto.
kuberi ruang bebas untuk mereka menceritakan semua terkait dengan hewan, boleh piaraan, kesayangan, atau bahkan Hewan khayalan..
.
setelah sebelumnya kuberi contoh cerita “kucing kesayangan”, mereka terlihat termangu, seperti sedang meng-konsep cerita diotak masing2..
.
sampai akhirnya saat ku berkeliling sekedar mengamati dan mengintip apa yang mereka tulis.. aku mendapati pargraf demi paragraf yang tersusun dengan sistematis, urut dan penempatan titik koma yang proporsional..
.
“pada saat aku TK, suatu hari guruku memberi tugas untuk membawa hewab peliharaan, aku bingung karena aku tak punya hewan. setelah pulang akupun meminta bunda untuk membelikan hewan untuk aku bawa ke sekolah”
kira2 seperti inilah awal paragraf yang dibuat Syifa..
.
yang aku bangga dan kagum adalah penyajiannya yang ciamik untuk anak seusia dia, dari yang menjelaskan tentang kucing baru boleh kawin setelah umur 1tahun, dan kucingnya kebobolan oleh kucing luar rumah diusia 5bulan.. terus yang menceritakan dia mendapati banyak anak kucing(kucingnya melahirkan) dikolong meja yang dia kira cicak raksasa.. sampai pada kucing pemberian tantenya yang suka buang air sembarangan hingga akhirnya si kucing diusir oleh bundanya.. ini beneran membuatku tertegun..
.
saat menyusuri kalimat2 dalam ceritanya aku senyam/um sendiri..
kekagumanku membuat banyak gumaman dalam hati, sampai terselip do’a semoga menjadi penulis yang ‘angfa’uhum linnas’..