​Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang

Oleh: KH. A. MUSTOFA BISRI
Kompas, 1 April 2018
Ketika pertama kali aku melihatnya, aku sudah bertanya-tanya dalam hati.  Aku melihatnya dari jendela kereta api menjelang keberangkatanku dari stasiun S menuju kota J. Seorang gadis cilik beralis tebal berdiri sendirian di peron, memandangiku. Semula aku kira dia sedang mengantar dan ingin melambai seseorang lain, orangtuanya atau saudaranya atau siapa. Tapi kulihat matanya yang cemerlang tertuju langsung kepadaku dan hanya kepadaku. Saya membayangkan atau mengharapkan dia tersenyum. Bila tersenyum, pasti akan semakin indah bibir mungil itu. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Hanya pandangannya saja yang tidak terlepas dari diriku. Aku sama sekali tidak bisa menafsirkan atau sekadar menerka-nerka kehadiran dan pandangannya. Wajah manis itu tidak mengekspresikan apa-apa.
Sampai keretaku berangkat, wajah gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang itu masih memandangiku. Anak siapa gerangan? Mengapa sendirian di stasiun? Bukan. Menilik pakaian dan sikapnya, dia pasti bukan gelandangan. Pakaiannya bersih, sikapnya mantap. Dan matanya itu, mata yang cemerlang itu, meski tidak memancarkan kegembiraan, tidak menyiratkan sedikit pun penderitaan atau sekadar kegelisahan seperti umumnya kebanyakan mata anak gelandangan.
Keretaku semakin melaju. Stasiun yang menyimpan misteri gadis kecil itu sudah lenyap dari pandangan. Tapi wajah gadis kecil itu tak kunjung hilang dari benakku. Dia terus mengikutiku. Sampai kondektur memeriksa karcis. Sampai kru KA menyuguhkan makan malam. Sampai aku makan. Sampai aku tertidur.
Tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun kota J. Dengan taksi aku menuju rumah kenalanku yang menjanjikan akan mengenalkanku dengan adiknya yang katanya cantik seperti bintang film kesukaanku. Sopir taksi menanyakan seperti biasa, ”Lewat mana?” Saya pikir ini kiat sopir taksi untuk mengetahui apakah penumpangnya _ngerti_ jalan atau tidak. Kalau ketahuan tidak mengerti jalan, maka dia putar-putar seenaknya agar argonya bisa tinggi. Maka aku bilang, ”Terserah abang sajalah!” Dan ternyata karena aku memang tidak mengerti jalan, aku pun tidak tahu apakah dia putar-putar atau tidak.
Rumah kenalanku, Sahlan, terletak di kampung yang padat. Aku keluar masuk gang, tanya sana-sini, baru akhirnya ketemu. Rumahnya sederhana sekali seperti umumnya rumah-rumah yang lain.
Sahlan senang sekali melihat aku benar-benar datang memenuhi janjiku. Saking senangnya dia kelihatan seperti gugup. Sebentar-sebentar masuk lalu keluar lagi dan setiap keluar ada saja yang dibawanya: yang minuman, kue-kue, rokok. Terakhir dia bawa peralatan mandi. ”Mandi dulu apa?” tanyanya kemudian dijawab sendiri, ”Ya, sebaiknya kamu mandi dulu biar segar.” Aku nurut.
”Kok sepi? Kau sendiri ya?!” tanyaku ketika dia mengantarku ke kamar mandinya.
”Ya, bapak dan ibu sedang mudik ke M. Aku sendirian dengan adikku, jaga rumah.”
Entah mengapa ada rasa lega ketika mendengar dia sendirian dengan adiknya. Tapi di mana dia gerangan? Mau bertanya agak malu juga, jadi aku diam saja.
”Ini kamarmu. Kalau ingin istirahat dulu, silakan lho!” katanya ramah, ”Jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri!”
Di kamar mandi aku mendengar suara gadis sedang menyanyi lagu India. Ini pasti suara adiknya, pikirku. Merdu juga. Pasti orangnya cantik.
Habis mandi aku langsung masuk ke kamar yang disediakan, entah kamar siapa. Mungkin kamar orangtuanya. Kamar ini juga sederhana tapi bersih sekali. Aku ganti baju dan suara lagu India itu masih terus kudengar.
”Sarapan dulu, Mas!” tiba-tiba terdengar suara Sahlan dari luar kamar. ”Oke!” jawabku dari dalam kamar.
Ketika aku keluar, Masya Allah, aku tertegun. Kulihat di depanku, seorang perempuan menatapku. Alisnya tebal, matanya cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis seperti yang dimiliki gadis kecil yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin perempuan ini ibu dari gadis cilik itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia hanya mempunyai seorang adik perempuan.
Perempuan itu memberi isyarat, mempersilakan ke meja makan sambil tersenyum manis sekali. Aku mengangguk dengan gugup. Sahlan sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Syukur dia tidak memperhatikan kehadiranku dan tidak melihat kegugupanku. Aku segera memperbaiki sikapku seolah-olah tidak ada apa-apa dan langsung menuju meja makan. Perempuan itu duduk di samping Sahlan. Aku pun mengambil tempat duduk di depan mereka. Merasa saya sudah bergabung, Sahlan buru-buru melipat korannya dan mempersilakan.
”O ya, kenalkan dulu, ini Shakila,” katanya sambil melirik perempuan bermata cemerlang di sampingnya, ”Adikku. Adik ketemu gede, ha-ha. Istriku tercinta!” Deg. Ada sesuatu seperti memalu dadaku. Ternyata istrinya. Asem, kau Sahlan, batinku.
Perempuan itu mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku pun mengulurkan tanganku. Kami berjabatan tangan dan terasa ada getar yang kurasakan; entah bersumber dari tanganku atau tangannya yang lembut. Kembali berkelebat wajah gadis kecil di stasiun.
”Ayo, kita mulai! Nanti keburu dingin rawonnya!” Sahlan kembali mempersilakan. Tanpa berbicara sepatah pun, istrinya mengambilkan nasi untukku dan suaminya. Kami, maksudku aku dan Sahlan, makan sambil mengobrol. Istrinya sama sekali tidak ikut bicara. Hanya sesekali tersenyum; seperti ketika suaminya menceritakan asal-usul namanya yang seperti nama bintang film India itu. Bahkan ketika aku sengaja bertanya sesuatu kepadanya, Sahlan yang menjawab. Sekejap terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan istri Sahlan ini bisu. Ah, tidak, lha tadi yang kudengar menyanyi lagu India, kan, dia.
Sehabis makan, aku dan Sahlan masih meneruskan berbincang-bincang, tepatnya Sahlan yang bercerita dan aku hanya kadang-kadang membumbui pembicaraanya; sementara istrinya membereskan meja makan dengan diam. Untunglah Sahlan termasuk jenis manusia yang senang berbicara tanpa peduli didengarkan atau tidak; sehingga dia tidak menyadari kalau aku tidak begitu konsentrasi mendengarkannya. Konsentrasiku terpecah antara mendengarkan pembicaraannya dan memikirkan istrinya. Sejak melihat kemiripannya dengan gadis kecil di stasiun dan mendengar suaranya menyanyikan lagu India, aku mengharap dia itulah adiknya. Ternyata Sahlan, sengaja atau tidak, telah mempermainkanku. Yang dia bilang adiknya ternyata istrinya.
Tiba-tiba Sahlan menepuk lenganku dan berkata seolah-olah dia tahu apa yang sedang kupikirkan, ”Kau tahu, adikku itu, eh, istriku itu, betul-betul perempuan istimewa. Betul-betul istimewa. Dia berbicara tidak menggunakan mulut. Mulutnya hanya untuk tersenyum dan bernyanyi. Mungkin kau mendengar nyanyian India tadi, itulah lagu kesukaannya. Merdu ya?! Tapi dia hanya berkata-kata dengan matanya dan sesekali dengan senyumnya. Sejak berkenalan, aku tidak pernah mendengar dia berbicara dengan mulut. Tadinya kukira dia bisu–dan aku tidak peduli biar bisu sekali pun, aku sudah telanjur kesengsem oleh senyum dan matanya yang cemerlang itu—ternyata bila sendirian, sedang mandi, mencuci, atau memasak di dapur, dia menyanyi.”
Sahlan berhenti ketika istrinya datang membawa dua cangkir kopi. Saat meletakkan cangkir kopi di depanku, saya melihat matanya yang cemerlang seperti mempersilakan. ”Terima kasih!” kataku dan senyumnya yang manis kulihat seperti mengatakan, ”Terima kasih kembali!”
”Lihatlah,” kata Sahlan begitu istrinya berlalu, ”dari tadi kau tidak melihatnya berbicara, tapi kau pasti merasakan dia berkata-kata kepadamu. Itulah istriku yang lebih suka kusebut dan kuperkenalkan sebagai adikku. Perkenalanku dengannya juga cukup aneh. Waktu itu aku sedang berada di atas kereta yang akan berangkat dari stasiun S. Dari jendela kereta, kulihat dia, waktu itu masih seorang gadis kecil, berdiri dekat gerbong keretaku. Matanya yang cemerlang  memandang lurus ke mataku tanpa berkedip. Aku mencoba tersenyum. Ternyata dia membalas senyumanku dengan senyumannya yang manis itu.”
Sahlan berhenti sejenak matanya menerawang, seolah-olah sedang mengingat-ingat masa lalu. Aku sendiri kontan teringat gadis kecil beralis tebal yang juga memandangiku di stasiun S ketika keretaku akan berangkat.
”Percaya atau tidak,” tiba-tiba Sahlan melanjutkan, ”beberapa tahun kemudian ketika aku pulang ke M setelah capek keluyuran seperti kau sekarang, ibuku memperkenalkanku dengan seorang gadis cantik beralis tebal bermata cemerlang. Gadis yang tak lain dan tak bukan ialah gadis yang pernah kulihat di stasiun S. Singkat cerita, ketika ibuku menawariku untuk mengawini gadis yang bernama India itu, tanpa pikir panjang aku mau. Kami kawin dengan wali hakim, karena dia gadis _lola,_ tak punya orangtua dan saudara. Ia adalah anak asuh kawannya ibuku yang memungutnya sejak bayi. Kawan ibuku itu menemukan bayi di stasiun S dan sudah diurus ke mana-mana, tak ada yang mengakuinya. Akhirnya kawan ibuku itulah yang memeliharanya. Beliau menamakannya dengan bintang film India kesayangannya, Shakila.”
Aku tak lagi mendengar apakah Sahlan masih terus berbicara atau tidak karena tiba-tiba gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang datang, entah dari mana, dan tersenyum manis sekali.
*A Mustofa Bisri,* _lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dikenal sebagai kiai yang mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang. Gus Mus, demikian namanya lebih dikenal, telah menghasilkan beberapa buku kumpulan puisi dan cerpen._

Advertisements

Absurdivitas pelakon politik

Seringkali dijumpai para pemimpin atau calon pemimpin menunjukan dokumentasi dirinya bersama rakyat, lebih sering yang dipertunjukan adalah gestur komunikasi dengan warga kelas bawah, yang pekerjaan mereka terlihat seperti tukang becak atau pedagang kaki lima, yang mungkin menurut sebagian orang penghasilan mereka sehari hanya cukup untuk makan hari itu juga, dengan tak lupa memberi caption ‘mendengar aspirasi rakyat secara langsung’. 

Entahlah, kadang Aku melihat itu tak lebih dari sekedar tindakan pengelabuhan. Yang Aku hampir tak percaya apakah para pemimpin atau calon pemimpin itu benar2 akan menampung dan melaksanakan titipan aspirasi yang mereka dengar secara langsung itu. Bisa saja hanya sambi lalu, yang penting formalitas menyambangi rakyatnya terlaksana.

sekarang ini pencitraan seakan menjadi kebutuhan untuk kelangsungan hidup ekosistem politik di negeri ini. Ya mbuh.. Apakah untuk menggali kepercayaan warganya? atau memang sedang berlomba menarik simpati? Atau memang ini berasal dari rakyat itu sendiri yang cenderung lebih percaya dengan mereka yang bisa menunjukan seribu kebaikan di media? Sehingga itu dijadikan komoditi menjanjikan dalam bisnis politik? Jawabnya ada diujung langit, Kita kesana dengan seorang anak, anak yang tangkas, dan juga pemberani.. Bertarunglah dreden boll, dengan segala kemampuan yang ada, jika kembali dari langit, smoga hidupnya, jadi lebih baik… Halah kok jadi nyanyi sun go kong, eh go ku..

Jadi….

Jika benar, berarti memang rakyat kita sudah jauh dari naluri hipotesa. Yang terlalu gampang terpengaruh oleh kabar sepintas sekilas di media sosial atau massa.

Sebenarnya, masyarakat kelas bawah itu cukup gampang ditebak apa yang mereka butuhkan. Dan Aku pikir, harusnya pemimpin itu bisa menerka apa yang rakyatnya butuhkan. Seperti seorang ayah yang bisa menebak apa yang dibutuhkan anaknya. Memang, yang mampu melakukan itu hanyalah ayah yang mengerti tentang minat, bakat, dan tugas perkembangan anak2nya. 

Pun begitu dengan pemimpin sebuah daerah atau negara. Jika ia kenal dengan potensi wilayah dan penghuni daerahnya, tentulah paham pemetaan pembangunan yang musti dikonsepkan. Kebutuhan apa yang bisa memfasilitasi perkembangan SDM dan SDA tentu sudah terbayang untuk dipersiapkan.

Lhah ini, model kampanye yang gencar dilakukan kok ya blusukan. Latah sekali. Kayaknya karena melihat pemimpin yang sekarang menang karena sebelumnya terlihat rajin blusukan. Kemudian massive ditiru, dengan caption yang menurutku kurang tepat. Pwfftt.. Tepok jidat Aku kadang2.

Ya, mencari cela itu memang mudah. Aku tidak sedang membahas cela kok. Hanya ungkapan kecewa kenapa kadang banyak dijumpai warta mblegedes tentang ritual politik. Yang bukan hanya dilakukan calon pemimpin atau pemimpin. Juga dilakukan para penyaji berita. Spesifiknya ya seperti yang Aku singgung di awal. seperti wawancara dengan PKL, atau tukang parkir, atau tukang becak, atau petani, atau YLL lah.. Menyuguhkan komunikasi interaktif tentang kriteria pemimpin yang diharapkan, harusnya pemimpin itu bagaimana, harusnya pemimpin itu bisa ngapain aja, dlsb.

Lhoh, Bu, Pak, Mas, Mbak.. Itu panjenengan nggak salah menanyakan standart passing grade calon pemimpin atau pemimpin pada masyarakat kelas bawah??? Kok ya konyol sekali.

Bolehlah berkomunikasi dengan rakyat, untuk melihat perkembangan secara langsung, bagaimana tingkat kepuasan dan pertumbuhannya. Tapi kalau kemudian mereka disuruh memberi petuah kok kayaknya kurang pas..

.

.

Duh Aku ini ngomong apasih, mau nyuci kok malah nulis gakjelas dan gakpenting begini.

Duh maaf yg sudah baca sempak akhir, eh sampek akhir. Wis wis wis ah. Bye..

Pantang melihat pembullyan

Namanya Neo. Adalah siswa kelas 2e. Neo acapkali jadi bahan anak2 lain untuk mencari tawa. Tak jarang ulah temannya menjadi sebab Neo menangis. Memang Neo adalah anak dengan keaktivan dan tingkat sensitivitas di atas rata2 dibanding teman2 sekelasnya. Sensitivitas yang cukup tinggi membuat Neo gampang kesal dan menangis. itulah juga kenapa teman2nya kerap manjailinya. 

.

Seperti kemarin, saat berada di labkomp. Hanya karena sebagian teman teriak bersamaan “tidak hadir” saat namanya diabsen, Neo langsung mengeluarkan tangisnya. Ya, bisa dibilang Neo ini masuk kategori cengeng. Tidak semua anak seperti Neo, hanya beberapa. Nampaknya Neo memang perlu sedikit treatment supaya tak gampang terpengaruh.

Tidak percaya diri? Tidak juga. Awal Aku menjumpai Neo, malah asumsiku dia adalah anak dengan tingkat kepercayaan diri lebih tinggi dibanding teman sekelasnya. Akupun bingung kenapa akhir2 ini dia menjadi seaakan lebih sepakat dengan pendapat temannya ketimbang dirinya. Seperti halnya dia pernah menangis karena ada teman yang mengintimidasi akan meng-hack komputernya di rumah, sehingga takan lagi bisa bermain game. Jika ini dilakukan kepada anak lain, belum tentu akan percaya. Kalaupun percaya, pasti akan melaporkannya padaku.

 Entahlah, kenapa akhirnya beberapa anak seakan tak segan menjaili Neo.

.

Melihat perubahan itu. Yang beberapa temannya yang seakan tak segan menjaili Neo hanya karena ingin melihatnya menangis. Kemarin Aku memberi perlakuan khusus untuknya. Termasuk memberinya kepercayaan untuk memilih barisan paling rapih yang diizinkan ke komputer terlebih dahulu.

Beberapa dari mereka komplain. “Kenapa harus Neo? Aku nggak mau dipilih” sambil memberi raut muka sinis.

Aku jelaskan pada mereka;

“Ini hak preogratif Bapak, lantas apakah kalian berfikir Neo tidak pantas untuk memilih?”

Ada yang menjawab “iya”

.

“Kenapa tidak pantas?”

.

“Karena Neo suka bikin ulah, suka nangis..”

.

“Di labkomp Bapak tidak menjumpai Neo tidak taat aturan, tidak membuat ulah, nangispun ketika kalian jail pada Neo” Semua terdiam..

“Bapak ingin menunjukan sama kalian bahwa Bapak mempunyai penilaian yang berbeda. Jika toh Neo ini cengeng, kalian tidak seharusnya menggoda dia!” mereka masih terdiam.

“Bapak tidak suka dengan sikap kalian yang terkesan mengucilkan Neo. Paham!?” 

.

“Paham, Pak..” beberapa menjawab sambil menunduk.

.

“Jadi mulai sekarang, tidak ada lagi yang usil dengan Neo. Jika Neo membuat ulah, laporkan sama Bapak. Bapak yang berhak menghukum, bukan kalian. Jadi jangan berfikir Neo layak di jaili”

.

Beberapa anak cewek mulai menceritakan bahwa di kelas juga sering begitu, Neo dibuat nangis dlsb.

.

“Oke, Bapak sampaikan sekali lagi. Peraturan tadi tidak hanya untuk di labkomp, tapi juga di kelas. Paham anak2!!”

.

“Paham..”

.

“Baik semuanya menghadap ke Bapak..” dengan suara lebih rendah serta senyum.. Tanda bahwa Aku sudah mengakhiri masa tegas. “Dengarkan Bapak baik2..”

Mereka memandangku dengan lekat, seperti penasaran dengan apa yang ingin kusampaikan.

Aku manfaatkan untuk memberi beberapa nasihat supaya tak memberi sikap diskriminatif pada teman2nya, bertemanlah dengan baik, saling menolong dan saling memberi manfaat kebaikan.

Mereka tersenyum, seperti tau marahku sudah usai. Mereka kembali ngobrol, sampai kemudian kembali tenang setelah Aku katakan yang tertib yang akan dipilih ke komputer terlebih dahulu.

.

Neo melakukan tugasnya, memilih barisan yang paling rapih. kali ini dengan tanpa komplain dari anak2 yang tidak setuju.

.

.

.

Menjadi lurus atau bengkok, kuat atau lemah, lembut atau keras. Kendali ada pada mereka orang tua asuh.

Semoga Tuhan melimpahkan padaku kemampuan untuk adil dalam otoriter, demokratis, dan permisif saat mendidik anak-anakku.. 

Badmood, tired, and therapy

Waktu yang paling susah diajak mikir adalah saat badmood. Dimana suasana hati seakan mogok, Seperti kondisi wanita saat mens. Jadi ketika banyak orang beranggapan memahami wanita itu sulit, sebenarnya memamahami diri sendiripun sulit, yaitu pada waktu2 badmood. Ada semacam rasa marah yang tak tentu arah, hati seperti menginginkan sebuah posisi wuenak tapi si empunya hati tak mampu memahami apa yang diinginkan.
Pada saat2 demikianlah sebuah alat relaksasi diperlukan, atau bukan selalu alat, aura atau apapun itulah yang mampu memberi efek tenang di dalam, di alam paling dalam di dalam diri.
Beberapa hari yang lalu, karena kondisi lelah fisik dan pikiran, aku mengalami kondisi seperti yang terjabar di atas. Rokok tak lagi memberi efek rileks, alat yang satu itu hanya mampu memberi relaksasi saat pikiran butuh teman mengerjakan persoalan yang sedang berputar2 mencari simpul solusi. Kondisi ini berbeda, karena bafmood kali ini adalah imbas dari capeknya pikiran dan fisik. Butuh relaksasi tapi yang menenangkan dan mendamaikan, relaksasi yang mampu menyerap semua lelah yang mendera. Dengan kondisi yang badmood, dongkol takjelas, tapi fisik dan pikiran lelah. Seakan bingung diri ini harus memperlakukan tubuh seperti apa.
Akhirnya, setelah menyelesaikan Sholat Maghrib dan Isya, aku melabuhkan tubuhku ke tempat tidur, dengan sebelumnya memadamkan lampu. Mencoba mengistirahatkan badan dengan total, berharap menemukan efek hibernasi seperti kelelawar. Mata terpejam namun tak mampu membuat pikiran dan tubuh serta hati terlelap ke alam tidur. Masih seperti ada gemuruh yang menyerbu. Aku ikuti saja alurnya, terus menetralkan nafas dengan konstan, jika diibaratkan deru kendaraan, aku memposisikan nafas dan gerakan dengan stasioner. Badan, nafas dan pikiranku seperti sebuah daun kering yang terjatuh ke aliran sungai, terus mengikuti aliran lembutnya tanpa melawan..
Pikiran lebih dominan men-drive tubuh, pikiran, dan angan ketimbang hati. Beberapa yang terlintas adalah tentang bagaimana banyak orang sampai menggunakan obat2an terlarang hanya untuk mendapatkan kenyamanan hati, pikiran, dan tubuh secara kongruen. Ini mengingatkanku pada sosok Fidelis ari yang tadi siang namanya disinggung dalam sebuah status fesbuk seorang teman di timelineku. mengiang berita tentangnya setahun lalu, yang mengunakan ganja sebagai alat therapy untuk mengobati Istrinya yang terkena penyakit langka, sebuah penyakit yang menyerang sumsum tulang belakang, beberapa cara medis sudah ditempuh namun hasilnya nihil. Setelah membaca dari berbagai sumber, Fidelis menemukan ide bahwa ektrak daun ganja mampu menetralisir rasa sakit. Akhirnya dia menggunakan itu untuk menolong istrinya, dan hasilnya dirasa mampu membawa perubahan. Yang tadinya tidak mau makan, dengan theapy itu sang istri berangsur mau makan. yang tadinya tidak mau ngobrol, akhirnya bisa bercerita. Dan ada beberapa hal lain terkait perubahan yang membaik. Beberapa yang aku tau dari hasil membaca, efek penyakit ini memang memberi rasa sakit yang bisa dikatakan tidak ringan. Aku membayangkan berada di posisi fidelis, yang kesehariannya menyaksikan istrinya kesakitan. Dan Tentu siapapun tak tega setiap hari melihat orang yang dicintainya meraung menahan sakit. Dan demi melihat istrinya sembuh dari sakit yang menderanya, Fidelis tak perduli apakah yang dipakai itu terlarang atau tidak. Dan itu menurutku dia adalah sebenar-benarnya suami, aku sungguh tak mampu ikut menyalahkan apa yang dilakukan fidelis seperti yang dilakukan BNND, hingga ia ditangkap dan di penjara. Hingga 32 hari kemudian Istrinya meninggal karena tak mendapat perawatan therapy oleh suaminya yang terhalang jeruji besi. Huwh… Ini membuat mataku berkaca-kaca.
Oke, itu hanya salah satu yang terngiang. Tak berarti aku sedang tergiur menggunakan obat terlarang untuk mengusir gundah, sama sekali tidak.

Kemudian lagi adalah, karena Aku sedikit suka membaca, untuk mengusir gelisah dan lelah ini Aku mencoba untuk membaca tiap artikel yang muncul di timline sosmed, juga mencarinya di wattpad. Namun mata terasa pegal dan otak juga enggan menikmati bacaan2nya.
Kemudian aku teringat kebiasaan lama yang jarang sekali aku pakai. Kebiasaan ini hanya menggunakan pendengaran sebagai perantara atau penghantar relaksasi. Yah, telinga. Otomatis sumbernya adalah suara. 

Dulu, Aku hampir sangat sering mendengarkan murottal setiap kali rasa bosan, lelah, dan gundah menerpa. 

Aku terfikir untuk melakukan itu. Kuambil earphone dan ku colokkan ke ponselku. Dulu banyak sekali mp3 murottal yang ku save di ponsel, namun sekarang tidak ada. Aku membuka youtube dan mengetiknya di kolom searching. Langsung muncul deretan judul video yang memuat kata ‘murottal’. Aku memilah dan ku klik mana mana yang sekira cocok ditelinga.

Aura positif mulai memancar, menghalau sedikit demi sedikit rasa gundah dan lelah. Kunikmati tiap2 lantunan ayat-NYA dengan merebah tanpa polah. 

Ada beberapa qari’ yang aku dengarkan, baik nasional maupun internasional. Sampai aku tertegun saat mendengar murottal dari qari’ muda bernama Ibrohim Elhaq, sungguh indah dan merdu lantunan-lantunan ayat yang keluar dari suaranya. Langgam bayati qurdi yang biasa dipakai oleh Syekh Misyaari Rasyid nampak ia pakai di tiap cengkok nadanya. Dan mungkin perbaduan beberapa langgam yang lain. Pada nada tinggi, sedang, dan rendahnya sungguh enak didengar. Mendayu dan menghentak dengan halus..

Dan alunan itu terasa mampu mengantarku pada lelap yang melepas lelah.. Hingga akhirnya terbangun dengan kondisi lebih baik. Hati, pikiran, dan tubuh terasa berfungsi dengan lebih kongruen.
Aku bangun dan memulai aktivitas rutin seperti biasanya.

Sampai siangnya tertohok oleh postingan salah seorang trainer bernama Arif Rahutomo. Inti dari statusnya kira2 begini; bahwa untuk membuang kotoran itu haruslah di tempat yang bersih. Kemudian disambung dengan analogi bahwa beliau pernah kebelet BAB dan ketika menuju toilet tapi keadannya sangat kotor, pupnya tidak bisa keluar. Baru setelah berpindah ke toilet yang bersih BABny jadi lancar.

Point yang ingin beliau sampaikan adalah. untuk membuang atau mengusir hal yang tidak baik atau kotor, kita butuh tempat yang baik, yang bersih. Bukan tempat yang kotor atau rusak. Namun kebanyakan orang sekarang, ketika mendapat masalah atau sedanh gelisah, seringkali salah tempat dalam menghalau hal tadi. Masalah atau pun gundah tak bisa dibuang di tempag mimum2an keras, lokalisasi, dlsb. Alih2 ingin mengusir masalah malah hanya menimbun efek rasa bersalah.

Maka kembalilah pada sang maha bersih. 

Dadaku terasa makjleb membaca status beliau. Terimakasih untuk tohokannya.
Karena tubuh yang masih menginginkan waktu tambahan hibernasi, akupun pulang kerja lebih awal dari biasanya. Untuk kembali merebah dan menikmati gema wahyu-NYA dari suara merdu Ibrohim Elhaq.

Ket. Gambar: 

Keesokan harinya, aku mengindikasi negara api akan menyerang tubuhku. 

Ahelah lebay. 

Nggak lebay, maksudnya aku merasa kayak mau meriyang gitu.. 

Oh…

Dan biasanya yang aku lakukan untuk mencegah tubuh dari ke-tumbang-an adalah dengan makan enak. Nah jadi sudah agak lama, semenjak menjadi anak rantau, aku menggunakan makanan sebagai obat.

Dan puji Tuhan, aku menemukan lauk enak yang lama tak kujamah. Pete, uuwh.. Sangat menggoda selera. Langsung saja kupesan dengan ditemani tempe orek dan ikan asin, dan tentunya sambal dengan porsi di atas rata2.. Yummy..
*

Jakarta, 21 februari 3018

Kadang perlu melihat kelam untuk mengerti indahnya cahaya

Ini adalah kali kedua aku makan di warungnya. Beberapa tahun sebelumnya memang aku agak rutin makan di situ. Namun kali ini aku anggap berbeda, karena pengelolanya sudah berganti. Dulu jaman kuliah masih aktif setidaknya tiga kali dalam seminggu aku selalu makan di sana, namun setelah lulus aku tak lagi makan di warung itu.
Sekitar dua minggu yang lalu, ketika aku selesai makan di sana, tiba2 pelayan laki2 dengan perawakan kurus dan wajah terlihat lebih tua dariku duduk mendekatiku. Dengan terbata dan santun Dia membuka obrolan denganku. Diawali beberapa kalimat maaf yang diulang-ulang, takut aku tersinggung, dia mulai bertanya apa aku ini Mas Idzhar. Aku menahan gelas air minum yang hampir menempel di bibirku, menoleh kearahnya dan kuurungkan minum karena kaget dengan pertanyaannya. Aku kaget kenapa dia tau namaku, sedangkan aku sama sekali tak mengenali wajahnya. Aku pandangi dia sembari menanyakan hal sebaliknya. Menanyakan siapa dan kenapa mengenal Saya.

Hingga akhirnya dia menjelaskan siapa dirinya dan berbalik kaget kenapa sampai aku sama sekali tak mengenalinya.

Adalah dia adik kelasku di masa SD. yang memiliki masa lalu cukup kelam sampai masuk daftar DPO. Yang dulu bertubuh gemuk, sekarang kurus dengan model rambut jeger atau kuncir panjang dibelakang ala tahun 80an. 

Akhirnya aku mulai mengingat wajahnya, benarlah ini adalah dia dalam versi kurus. Jaman kami satu sekolah memang tak akrab, tapi namanya satu sekolah dan satu desa pastilah sering kita ketemu. Aku dulu memang kategori anti sosial, jadi tak banyak juga memiliki teman akrab. Itu yang juga kadang menyebabkan canggung menyapa teman2 semasa SD. yang sudah puluhan tahun tak bertemu. 

Dia pun menceritakan kenapa akhirnya berdagang disitu dan sudah berapa lama. Tak sedikit pula dia menjelaskan bahwa kini dia sudah berubah. Mungkin ini ia anggap penting untuk diceritakan, supaya image dirinya yang jelek di masa lalu cepat lenyap dari lawan bicaranya. Aku memahami itu, aku manggut2 saja mendengarkan semua ceritanya, dengan sesekali memberi pernyataan dukungan kepadanya, semoga istiqomah dan mendapat hidup yang lebih baik.

Sangat nampak bahwa ia begitu merindukan teman2nya. Bertemu denganku yang satu kampung, ia seperti menemukan keluarga yang hilang. Menawarkan segala apa yang ada dietalasenya, hingga tak memperbolehkanku membayar apa yang sudah ku makan. 

Karena diburu waktu, aku pun mohon diri. Tak sempat memberi umpan balik atas curhatnya yang cukup panjang kala itu. Aku pamit dengan janji lain waktu akan datang kembali.
Sebenarnya long week end kemarin aku sudah berniat memenuhi janjiku, makan di warungnya dan melanjutkan obrolan yang belum semoat ia selesaikan. Namun beberapa aku lewat depan warungnya selalu tutup.

Dan barusan, sepulang ngeles aku makan siang di sana. Benarlah dia katanya libur sejak jum’at dan baru buka kemarin.

Seuasi makan, ia menggeletakan rokok a mild dengan sebelumnya menanyakan aku merokok atau tidak, dan rokok apa yang disuka.

Dia mulai membuka obrolan dengan pertanyaan basa/i, hingga akhirnya aku mendapat klarifikasi atas dugaanku yang ternyata salah. Setelah habis kira2 3 batang rokok dan kopi ku hampir habis. Ternyata kesalahannya di masa lalu sudahlah ia pertanggungjawabkan di depan hukum. Aku kira sampai saat ini ia masih buron. Ternyata sudah ia tertangkap dan menginap di rutan. Sekarang ia sudahlah bebas dari beetahun-tahun yang lalu.

Syukurlah, dalam batinku mendo’akan semoga jalan rizkinya semakin berkah dan keluarganya tersejahterakan.

Melihat dia begitu terbukanya denganku, dengan menceritakan semua apa yang telah ia lalui, menjelaskan dan meminta nasihat untuk menguatkan niat baiknya, mengemukakan dan minta arahan yang padahal pengalamanku belum tentu seekstrim dirinya, memperlakukanku dengan respect dan santun. Aku mulai berani mengulik apa saja yang sudah ia usahakan dalam menuju hidup yang lebih baik (aku tidak mengatakan hidupku sudah lebih baik) selama ini, supaya aku lebih memahami dan menghindari memberi tanggapan yang salah. Sudah jauh dan panjang ia bercerita, tentunya mengharapkan komunikasi tidak satu arah, akan menjadi hidup dan dinamis jika obrolan ini sama2 memberi porsi yang seimbang. Setidaknya adalah bentuk penghormatanku karena ia sudah percaya kepadaku.

Tak banyak yang memang yang aku ceritakan disini, terkait privasinya yang mungkin tak baik di publish. Kecuali oleh si empunya cerita.

Tapi yang kemudian ini menjadi pembelajaran untukku adalah, saat ia mengatakan siap jika seandainya nanti ia mendapat tuntutan ganti rugi oleh orang yang dulu mungkin jadi korbanya. Aku tertohok mendengar ini, itu artinya dia benar2 ingin totalitas memperbaiki diri. Tidak semua mantan napi mungkin setotalitas dia, dengan sudah menebus kesalahannya di balik jeruji besi dianggap lunas. Namun ia masih memikirkan apakah orang2 yang dulu ia rugikan sudah memaafkannya.

Aku serius mendengarkannya.. Menguatkan niat hebatnya, menguatkan mentaalnya, menegaskan padanya bahwa Tuhan maha baik, semoga niat itu terealiasi dengan lancar. Tanpa kemudian menimbulkan masalah baru.

Aku sampaikan supaya niat itu cepat terlaksana, menemukan mereka, dan berani mengunjunginya untuk meminta maaf yang semoat tertunda.
Semangat kawan.. Terima kasih untuk pembelejaran hari ini.
*

Jakarta, 24 februari 2018

Hanya asumsi

dulu, dulu sekali. Saat masih muda, saat mencari banyak hal yang menurutku membanggakan. Jenis hal membanggakan dulu dan sekarang tentunya berbeda -versi kriteriaku pastinya-.
Dulu aku akan bangga jika orang lain tak bisa mendapatkan yang aku dapatkan, atau aku mendapatkan yang lebih baik dari yang orang lain dapatkan, atau aku mendapatkan yang lebih banyak dari yang orang lain dapat. Dan dulu aku juga bangga ketika aku terkesan lebih populer ketimbang teman2ku..hehehe… -Semua anak muda pasti pernah merasa sok artis-.
Satu hal yang paling terasa membanggakan adalah ketika aku terkesan mampu memberikan solusi atas masalah teman2ku. Ya, aku bangga menjadi konselor pada saat itu, tak sedikit yang betah curhat cerita panjang lebar denganku..
Saat menjadi konselor abal2 aku  berasa kesurupan jin bijaksana, saat mendengar keluh kesah teman2. Dengan sendirinya aku mampu menyusun kata2 bijak yang sedikit meneduhkan. Ketika obrolan usai, tak jarang aku bingung sendiri dengan kalimat bijak yang keluar.
Memang, Dulu aku sempat suka baca buku, buku apapun aku baca, terutama buku yang membahas asmara. Hahaha… Yaelah anak muda gitu.. 

Mungkin karena sedikit seneng baca buku juga jadi agak mampu ngladenin obrolan, efeknya lawan ngobrol jadi betah ngoceh kesana kemari.
Dulu aku seakan punya segudang teori untuk meladeni lawan ngobrol, tak jarang kalimat berbau wejangan(saran, sugesti, nasehat. Atau apalah itu namanya) yang seakan menyuruh orang lain untuk sabar, pemaaf, kuat, semangat, dsb. sering terlontar dari mulutku. 
Nah, Menginjak masa transisi dari remaja ke dewasa. teman2 mulai mrithili(bahasa gampangnya berguguran), hahaha… menjauh satu persatu. ada yang merantau, sekolah d daerah lain dlsb. Saat itu berbagai hal galau memderaku. Kampretnya disaat itu pula berasa minim tempat berbagi, padahal dulu aku merasa selalu jadi wadah keluh kesah orang2 sekelilingku. Ya kan kamvret? Lha iya!.
Disinilah seakan aku mendapat materi praktek atas teori2 yang pernah aku lontarkan dulu.

Makjederrr… Tuhan memberiku kesempatan untuk mengalami beberapa persoalan yang pernah di konsultasikan padaku dan aku sok bijak memberi solusi.. ya Tuhan… Maafkan diri ini.. nggak lagi2 jadi orang sok bijak.. ampun.. gumamku kala itu.
Saat itu aku berasa kapok sudah berlagak menguasai segala dan mampu menyelesaikan masalah kehidupan.. yang terucap dalam hati berulang hanya kalimat2 kekapokan. nggak lagi2 aku ngasih nasehat, nggak lagi2 aku ngasih solusi masalah orang lain. Mulai sekarang kalo ada orang curhat aku mau jadi pendengar yang baik saja. Itu gerutuan yang sering aku colotehkan dalam hati.
Dan sejak itu aku fakum dari dunia konselor. Hahahaha… Jarang baca buku. Hahaha… Pengen jadi orang eksak aja yang membahas masalah science. Kwkwkwkw… Lucu emang.
Dan sekarang, setelah agak tua. Tersadar bahwa memang belajar yang baik itu tidak hanya dari teori. harus mengalami. practice sangatlah perlu, dan aku bersyukur pernah menapaki dunia eksak. Menjadi praktisi itu penting dan perlu.

PARADOKS

Tapatnya saat sedang berjalan pulang dari Musholla seusai jamaah ashar, Aku berfikir bahawa diriku adalah orang yang mempunyai rasa tidak konsisten. Dalam periode waktu tertentu, aku merasa menjadi orang dengan type penyendiri. Enggan mendapati orang lain disampingku, hari-hariku ter-mindset lebih enak melakukan apapun sendiri. Asyik berkutat dengan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, melakukan hal sendirian tanpa ingin ada pasang mata orang lain melihat apalagi mengawasi.
Bahkan, orang yang terbilang menyayangiku pun aku halau untuk tak mendekatiku. Seperti keluarga, pasangan, terlebih orang2 yang tak pernah hinggap di hatiku, jelas aku halau karena terasa mengganggu.

Seseampainya di kamar, aku melepas baju dan celanaku. Menggantinya dengan pakaian casual Lalu merebahkan diri. dan pikiranku melanjutkan renungan tadi. Bahwa diriku seakan menjadi jiwa yang berubah-ubah.

Sejauh ini aku tak merasa bahwa ini sebuah masalah. Aku mencoba menikmati dan mengikuti rasa yang ada. Meski di kemudian hari ada saja efek samping yang muncul. Seperti ada yang menganggapku sombong, egois, dan anti sosial.

Aku menerimanya, dan bersyukur mendapat dan mendengar penilaian pihak luar seperti itu. Setidaknya aku menjadi lebih prepare saat moodku berubah demikian, memberi tau orang2 tersayang untuk tak tersinggung dengan perubahanku. Mencoba Membuat sisi egois ini menjadi lebih ramah sosial, terutama untuk keluarga dan orang2 terdekatku. Karena walau bagaimana, sejauh ini aku masih berfikir mengikuti rasa adalah hal yang benar, menurut versiku tentunya. Bukan memanjakan, namun yang begitu terasa mendatangkan feel-good.

Tapi ini masih proses identifikasi, mengenali karakter2 baru yang muncul untuk tidak menjadi wabah untuk diriku sendiri dan apalagi untuk orang lain.

—-

Dan pada priode tertentu juga, aku adalah tipe orang yang harus didampingi. Sangat tidak mood melakukan apapun sendiri, Segala sesuatunya ingin ditemani, terutama untuk melakukan kunjungan atau pergi ke suatu tempat. Aku seakan tak berarti tanpa guidence disampingku, butuh arahan, butuh masukan, butuh nasehat, butuh saran. Bahkan dalam kondisi ini aku hampir tak percaya dengan kemampuan berfikirku sendiri. Aku lebih percaya dengan pendapat orang lain, menganggap semua asumsi orang lain lebih benar, kata2nya adalah petuah yang musti dijalankan. 

—-

Selama ini aku menganggap bahwa Prinsip hidupku adalah menjadi orang yang berpendirian. Prinsip ini cukup susah dijalankan, karena hampir tiap waktu prinsip ini mengalami goncangan. Bahwa sebuah pendirian adalah hal yang tak bisa dipegang tanpa dasar dan pengetahuan yang kuat. Kita tau, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selalu saja berkembang, berubah mengikuti alur usia zaman. Maka begitupun untuk pendirianku, yang acapkali tergoncang dengan analisa2 baru yang muncul. Dilema kerap menyerang ketika disuguhi informasi baru yang bertentangan dengan pemikiran namun terlihat logis.

Maka dari itulah aku mulai lebih jeli menangkap kebiasaan baru. yang reflek muncul, entah itu karena stimulasi intrapersonal ataupun interpersonal, untuk masuk list dalam daftar pendirian. Termasuk yang sedang kubahas ini.

.

Jakarta, 17-1-2018, 16:41 WIB.