Hanya asumsi

dulu, dulu sekali. Saat masih muda, saat mencari banyak hal yang menurutku membanggakan. Jenis hal membanggakan dulu dan sekarang tentunya berbeda -versi kriteriaku pastinya-.
Dulu aku akan bangga jika orang lain tak bisa mendapatkan yang aku dapatkan, atau aku mendapatkan yang lebih baik dari yang orang lain dapatkan, atau aku mendapatkan yang lebih banyak dari yang orang lain dapat. Dan dulu aku juga bangga ketika aku terkesan lebih populer ketimbang teman2ku..hehehe… -Semua anak muda pasti pernah merasa sok artis-.
Satu hal yang paling terasa membanggakan adalah ketika aku terkesan mampu memberikan solusi atas masalah teman2ku. Ya, aku bangga menjadi konselor pada saat itu, tak sedikit yang betah curhat cerita panjang lebar denganku..
Saat menjadi konselor abal2 aku  berasa kesurupan jin bijaksana, saat mendengar keluh kesah teman2. Dengan sendirinya aku mampu menyusun kata2 bijak yang sedikit meneduhkan. Ketika obrolan usai, tak jarang aku bingung sendiri dengan kalimat bijak yang keluar.
Memang, Dulu aku sempat suka baca buku, buku apapun aku baca, terutama buku yang membahas asmara. Hahaha… Yaelah anak muda gitu.. 

Mungkin karena sedikit seneng baca buku juga jadi agak mampu ngladenin obrolan, efeknya lawan ngobrol jadi betah ngoceh kesana kemari.
Dulu aku seakan punya segudang teori untuk meladeni lawan ngobrol, tak jarang kalimat berbau wejangan(saran, sugesti, nasehat. Atau apalah itu namanya) yang seakan menyuruh orang lain untuk sabar, pemaaf, kuat, semangat, dsb. sering terlontar dari mulutku. 
Nah, Menginjak masa transisi dari remaja ke dewasa. teman2 mulai mrithili(bahasa gampangnya berguguran), hahaha… menjauh satu persatu. ada yang merantau, sekolah d daerah lain dlsb. Saat itu berbagai hal galau memderaku. Kampretnya disaat itu pula berasa minim tempat berbagi, padahal dulu aku merasa selalu jadi wadah keluh kesah orang2 sekelilingku. Ya kan kamvret? Lha iya!.
Disinilah seakan aku mendapat materi praktek atas teori2 yang pernah aku lontarkan dulu.

Makjederrr… Tuhan memberiku kesempatan untuk mengalami beberapa persoalan yang pernah di konsultasikan padaku dan aku sok bijak memberi solusi.. ya Tuhan… Maafkan diri ini.. nggak lagi2 jadi orang sok bijak.. ampun.. gumamku kala itu.
Saat itu aku berasa kapok sudah berlagak menguasai segala dan mampu menyelesaikan masalah kehidupan.. yang terucap dalam hati berulang hanya kalimat2 kekapokan. nggak lagi2 aku ngasih nasehat, nggak lagi2 aku ngasih solusi masalah orang lain. Mulai sekarang kalo ada orang curhat aku mau jadi pendengar yang baik saja. Itu gerutuan yang sering aku colotehkan dalam hati.
Dan sejak itu aku fakum dari dunia konselor. Hahahaha… Jarang baca buku. Hahaha… Pengen jadi orang eksak aja yang membahas masalah science. Kwkwkwkw… Lucu emang.
Dan sekarang, setelah agak tua. Tersadar bahwa memang belajar yang baik itu tidak hanya dari teori. harus mengalami. practice sangatlah perlu, dan aku bersyukur pernah menapaki dunia eksak. Menjadi praktisi itu penting dan perlu.

Advertisements

PARADOKS

Tapatnya saat sedang berjalan pulang dari Musholla seusai jamaah ashar, Aku berfikir bahawa diriku adalah orang yang mempunyai rasa tidak konsisten. Dalam periode waktu tertentu, aku merasa menjadi orang dengan type penyendiri. Enggan mendapati orang lain disampingku, hari-hariku ter-mindset lebih enak melakukan apapun sendiri. Asyik berkutat dengan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, melakukan hal sendirian tanpa ingin ada pasang mata orang lain melihat apalagi mengawasi.
Bahkan, orang yang terbilang menyayangiku pun aku halau untuk tak mendekatiku. Seperti keluarga, pasangan, terlebih orang2 yang tak pernah hinggap di hatiku, jelas aku halau karena terasa mengganggu.

Seseampainya di kamar, aku melepas baju dan celanaku. Menggantinya dengan pakaian casual Lalu merebahkan diri. dan pikiranku melanjutkan renungan tadi. Bahwa diriku seakan menjadi jiwa yang berubah-ubah.

Sejauh ini aku tak merasa bahwa ini sebuah masalah. Aku mencoba menikmati dan mengikuti rasa yang ada. Meski di kemudian hari ada saja efek samping yang muncul. Seperti ada yang menganggapku sombong, egois, dan anti sosial.

Aku menerimanya, dan bersyukur mendapat dan mendengar penilaian pihak luar seperti itu. Setidaknya aku menjadi lebih prepare saat moodku berubah demikian, memberi tau orang2 tersayang untuk tak tersinggung dengan perubahanku. Mencoba Membuat sisi egois ini menjadi lebih ramah sosial, terutama untuk keluarga dan orang2 terdekatku. Karena walau bagaimana, sejauh ini aku masih berfikir mengikuti rasa adalah hal yang benar, menurut versiku tentunya. Bukan memanjakan, namun yang begitu terasa mendatangkan feel-good.

Tapi ini masih proses identifikasi, mengenali karakter2 baru yang muncul untuk tidak menjadi wabah untuk diriku sendiri dan apalagi untuk orang lain.

—-

Dan pada priode tertentu juga, aku adalah tipe orang yang harus didampingi. Sangat tidak mood melakukan apapun sendiri, Segala sesuatunya ingin ditemani, terutama untuk melakukan kunjungan atau pergi ke suatu tempat. Aku seakan tak berarti tanpa guidence disampingku, butuh arahan, butuh masukan, butuh nasehat, butuh saran. Bahkan dalam kondisi ini aku hampir tak percaya dengan kemampuan berfikirku sendiri. Aku lebih percaya dengan pendapat orang lain, menganggap semua asumsi orang lain lebih benar, kata2nya adalah petuah yang musti dijalankan. 

—-

Selama ini aku menganggap bahwa Prinsip hidupku adalah menjadi orang yang berpendirian. Prinsip ini cukup susah dijalankan, karena hampir tiap waktu prinsip ini mengalami goncangan. Bahwa sebuah pendirian adalah hal yang tak bisa dipegang tanpa dasar dan pengetahuan yang kuat. Kita tau, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi selalu saja berkembang, berubah mengikuti alur usia zaman. Maka begitupun untuk pendirianku, yang acapkali tergoncang dengan analisa2 baru yang muncul. Dilema kerap menyerang ketika disuguhi informasi baru yang bertentangan dengan pemikiran namun terlihat logis.

Maka dari itulah aku mulai lebih jeli menangkap kebiasaan baru. yang reflek muncul, entah itu karena stimulasi intrapersonal ataupun interpersonal, untuk masuk list dalam daftar pendirian. Termasuk yang sedang kubahas ini.

.

Jakarta, 17-1-2018, 16:41 WIB.

ARTI SEBUAH KUNJUNGAN. Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Ini tulisan Gus Dur tepat pada hari ini, 14 tahun silam, setelah beliau berkunjung ke Jalur Gaza, Palestina. Baca, yuk!


ARTI SEBUAH KUNJUNGAN

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Pada tanggal 20 Desember 2003, penulis menyertai sebuah rombongan besar ke jalur Gaza, Palestina. Setelah melalui perbatasan Israel-Palestina, dalam perjalanan yang sangat lama akhirnya penulis sampai di kota Gaza tempat kedudukan Yasser Arafat, yang sekarang menjadi pusat pemerintahan pihak “garis keras” bangsa Palestina. Hal itu karena “pusat pemerintahan yang “moderat” dan diakui dunia internasional adalah kota Ramallah, yang terletak di Tepian Barat Sungai Yordania, tempat Perdana Menteri (PM) Ahmad Qurei memimpin pemerintahan. Terbetik berita baru-baru ini, bahwa Menteri Keuangannya mengajukan sebuah usulan dalam bentuk paket bantuan internasional sebesar dua setengah milyar dollar AS untuk membantu Palestina membangun dirinya. Sementara Menlu Shalom dari Israel mengajukan bantuan kepada AS atas “keikutsertaan” Israel dalam serbuan militer ke Irak baru-baru ini, yang tampaknya akan diterima dengan mudah oleh pihak AS.

Apakah langkah Menkeu Palestina dan Menlu Israel itu memang dibuat atas dasar sepengetahuan satu sama lain, atau memang kebetulan saja waktunya hampir bersamaan? yang jelas hasil semuanya akan serba berbeda. Pada saat tulisan ini dibuat, PM. Ariel Sharon dari Israel mengumumkan tiga buah langkah penting untuk “menambah cair” hubungan kedua belah pihak. Masih menjadi tanda tanya, apakah dukungan finansiil dari pihak Uni-Eropa akan diperoleh Palestina seperti permintaan yang diajukan? Ataukah antara kedua hal itu (menerima bantuan atau menerima usulan Sharon) lalu dijadikan alternatif? Belum menjadi jelas bagi kita semua. Inilah resiko jika suasana berbalik, dari yang tadinya kondusif untuk mencapai kesamaan hasil yang seimbang antara kedua belah pihak, atau justru keadaan menjadi lebih buruk bagi pihak Palestina, dengan “semakin ketatnya” sikap pihak Israel dalam proses perundingan yang beberapa waktu lalu macet itu.

Ketika berada di Gaza penulis diminta berpidato. Penulis mengemukakan keinginannya untuk melihat Palestina yang merdeka dan memperoleh keadilan dalam kemerdekaannya itu. Para pembicara lain, terutama para pemuka Palestina sendiri, banyak menyampaikan keluhan dan keinginan agar memperoleh kemerdekaan dari pihak Israel. Dalam pandangan penulis, berarti Palestina mempunyai kedudukan yang sangat lemah dalam sebuah perundingan. Mungkin jauh lebih lemah daripada pendirian PM Ahmad Qurei, yang memang sudah “menetapkan” mana saja pokok-pokok yang harus dikorbankan guna memperoleh konsesi dari pihak Israel. Kalau perlu dengan paksaan, karena kesadaran akan kemenangan-kemenangan di kemudian hari. Hal yang sama seperti ketika Bung Hatta menandatangani perjanjian Komisi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 di Negeri Belanda, yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia serta kedaulatan wilayahnya, namun minus Irian Jaya/tanah Papua.

Hasil KMB itu dicaci maki orang, terutama oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, Bung Hatta dan koalisi partai-partai yang mendukungnya masih menang suara jika dibawa ke parlemen. Hal inilah yang menunjukkan kenegarawan Bung Hatta, yang yakin pada suatu masa Irian Barat/tanah Papua, toh akan dapat diambil kembali oleh Indonesia. Kita semua menunggu tiga belas tahun lamanya, sebelum pada akhirnya Irian Jaya/tanah Papua dapat direbut kembali oleh Indonesia melalui perjuangan Trikora tahun 1962. Hal inilah yang belum pernah terbukti, yaitu “keberanian politik” orang-orang Palestina untuk memberikan konsesi sekarang, yang dapat digunakan sebagai alat merebut ‘sisa’ konsesi itu dari pihak Israel. Dari hal ini terlihat kelihaian diplomasi pihak Palestina, masih berada di bawah tingkat kelihaian diplomasi pihak Israel. Hal itu juga karena bahwa “kemurahan hati” pihak Palestina dalam perundingan dengan pihak Israel, salah-salah dapat menjadi boomerang karena tidak akan “diimbangi” pihak Israel sekarang atau nanti.

*****

Dalam keadaan serba ruwet seperti itu, tentu saja para pemimpin Palestina, baik yang berhaluan moderat seperti Ahmad Qurei dan kawan-kawan maupun para pengikut Arafat, memang harus berhati-hati. Jangan sampai peluang mencapai kompromi yang sehat akan terlewat begitu saja, tetapi juga jangan sampai pemberian konsesi sekarang tidak akan dapat lagi diimbangi oleh penerimaan konsesi di kemudian hari dari pihak Israel. Di sinilah terletak kenegarawanan yang diharapkan dari “tokoh kawakan” seperti Yasser Arafat. Inipun jika hanya dilihat dalam kerangka internal orang Palestina sendiri,  belum dari kerangka “penyelesaian sengketa” antara Arafat dan Sharon. Antara kedua tokoh itu harus ada rasa saling mempercayai (trust), yang hingga sekarang belum pernah diperlihatkan kepada publik selama ini. Sampai-sampai pernah penulis kemukakan di hadapan para pengusaha Yahudi di Australia, sebaiknya kedua tokoh yang tidak saling mempercayai itu sama-sama mengundurkan diri.

Kunjungan penulis ke daerah Gaza, semakin memperkuat kesimpulan tersebut. Kota yang sepatutnya menjadi ibu kota kecamatan di negeri kita itu, keadaannya memang sangat memprihatinkan. Lalu lintasnya tidak teratur, toko-tokonya hanya terpusat pada sebuah kawasan memanjang dan hanya ada satu hotel lima tingkat yang ditempati oleh pertemuan yang penulis iikuti. Ketika penulis datang, segera diminta untuk memberikan sambutan singkat, dan di dalam sambutan itu penulis menyatakan bahwa penduduk setempat harus memperjuangkan dua hal sekaligus; kemerdekaan bagi berdirinya sebuah Negara Palestina dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Sambutan sederhana itu harus penulis ulangi kembali dalam bahasa Arab, karena demikian banyaknya anak-anak muda arab mengikutinya. Semula, penulis ucapkan dalam bahasa Inggris, karena demikian banyak (hampir lima puluh orang) peserta yang datang bersama penulis dari Jerusalem, yaitu para senator dan anggota parlemen AS, para pemimpin agama dari seluruh penjuru dunia dan para wartawan berbagai media.

Ternyata ada keuntungan juga untuk mampu berbahasa Arab, sehingga menghemat waktu panitia tidak perlu semuannya diterjemahkan. Penulis katakan dalam bahasa Arab, sudah menjadi keinginan kuat dari penulis untuk mengunjungi Gaza, yaitu sejak penulis berada di Mesir selama sekitar dua setengah tahun lamanya (dari permulaan 1964 hingga pertengahan 1966). Namun, impian itu tinggal impian karena penulis “terpaku”  pada tugas-tugasnya di Kairo. Namun keterlambatan ini tidak mengurangi rasa suka cita penulis untuk datang ke Gaza, dan ia berharap untuk dapat datang lagi di masa-masa yang akan datang. Bagi penulis Gaza adalah sumber perlawanan terhadap penjajahan, dan alangkah indahnya jika perlawanan itu tidak hanya mengambil bentuk fisik saja, melainkan juga perlawanan kultural terhadap keadaan. Gaza sudah membuktikan, bahwa perlawanan kultural adalah kekuatan dahsyat yang mampu melawan tentara pendudukan yang bersenjatakan M16 dan Uzi, tank-tank terbaru maupun pesawat-pesawat terbang F16. Dalam penggunaan  alat-alat tempur itu, tampak superioritas tentara Israel yang menyerang dari perbatasan hanya beberapa puluh kilometer saja di sebelah utara. Tapi setelah setengah abad, Gaza tetap berdiri sebagai pusat perlawanan bangsa Palestina yang menginginkan kemerdekaan dan keadilan bagi negeri mereka.

Perjuangan diplomasi yang dilakukan bangsa Palestina adalah perjuangan hidup dan mati yang tidak dapat diukur hanya dengan luasnya wilayah ataupun banyaknya penduduk. Jika telah mencapai kemerdekaan sebagai negara nanti, maka Palestina yang terdiri dari dua bagian itu yaitu wilayah Gaza sekitar 500 kilometer persegi dan kawasan Tepi Barat sungai Yordania yang jauh lebih luas. Kedua wilayah itu akan merupakan entitas pertumbuhan tersendiri, dan jika mampu mengembangkan ekonominya secara penuh, akan mampu menampung sekitar 1,5 juta orang penduduk Palestina yang sekarang menjadi warga negara Israel, dan menjadi warga negara kelas dua di kawasan orang-orang Yahudi tersebut.

Jika demikian ini yang terjadi, maka akan terjadi dislokasi ekonomi besar-besaran. Sejuta orang Palestina di Israel, tambah dua juta orang Palestina di berbagai negara-negara Arab dewasa ini, akan membentuk kekuatan ekonomi tersendiri. Profesionalisme yang mereka kembangkan, ditambah kewiraswastaan yang memang sudah ada sejak semula, ditambah dengan kematangan jiwa yang tumbuh dari keharusan bertahan di bawah serangan fisik yang bertubi-tubi, dan berakhir penguasaan teknologi karena menjadi buruh di negara orang, akan membuat bangsa Palestina yang berjumlah sekitar lima juta orang menjadi kelas penunjang yang sangat tangguh bagi sebuah negara baru.

*****

Namun tak ada gading yang tak retak, dan ini juga berlaku bagi bangsa Palestina. Palestina tidak memiliki kepemimpinan yang tanguh dan para pemimpin mereka saling bertengkar dalam perbedaan strategi dan garis perjuangan. Inilah yang harus mereka koreksi untuk diperbaiki dalam waktu dekat ini. Bagaimanapun juga, harus ada strategi perjuangan bagi sebuah bangsa, agar supaya segala macam energi dan kemampuan yang dimiliki bangsa itu dapat tersalur keluar menjadi alat perjuangan yang ampuh menghadapi lawan. Menurut penulis, strategi itu adalah perundingan yang lama dan berkepanjangan dengan pihak Israel, untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai negara dan keadilan. Tentunya strategi ini akan dapat diterima oleh pihak Israel, yang telah merasakan sendiri bagaimana akibat dari terorisme yang dilakukan oeh sejumlah kecil pejuang Palestina yang berhaluan keras. Mungkin peperangan di udara, aksi-aksi militer di darat maupun pertarungan di laut akan selalu dimenangkan Israel; tetapi kekerasan membabi-buta para pejuang “berhaluan keras” itu, terutama dalam bentuk “pemboman bunuh diri” (suicidal bombings) benar-benar tidak dapat dilawan oleh dinas keamanan Yahudi itu.

Jadi melalui cara terburuk dalam sebuah perjuangan, -yaitu melalui terorisme-, telah membuktikan betapa pihak Israel pun akhirnya harus bersedia berunding dan melupakan gagasan “Israel Raya” (Eretz Yisrael) yang dahulu dikandung oleh sejumlah orang Yahudi berhaluan keras pula. Memang bangsa Israel telah mencapai taraf kemakmuran yang tinggi, tetapi itu semua adalah berkat bantuan yang besar dari orang-orang Yahudi di manapun mereka berada, terutama di AS. Namun, tidak ada negara yang maju dalam jangka panjang hanya atas bantuan pihak lain saja. Karenanya bangsa Israel harus segera mencapai perdamaian dengan orang-orang Palestina. Hanya dengan cara demikian, anak-anak muda Israel dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk tujuan-tujuan menjaga keselamatan negara, melainkan untuk mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi. Sekarang ini saja, setiap pesawat terbang Israel yang datang dari timur harus berbelok ke selatan di atas teluk Mumbai, kemudian menyusur lautan India ke barat di selatan Yaman, untuk kemudian berbelok ke utara di atas laut merah, kemudian memasuki teluk Aqabah dan baru dapat mencapai negeri mereka di lapangan terbang Ben Gurion di Tel Aviv dari selatan. Ini sudah menambah bahan bakar seperempat dari kebutuhan, jika seandainya pesawat-pesawat terbang itu diperkenankan langsung melewati negara-negara arab. Jadi jelaslah, baik bangsa Palestina maupun Israel, sama-sama memerlukan perdamaian, bukan?
Jerusalem, 20 Desember 2003

Duta Masyarakat

Kuat lakoni, ora kuat tinggal ngopi..

*FALSAFAH WONG JOWO* 

_Kuat dilakoni, gak kuat ditinggal NGOPI_ ☕ Soale menungso kuwi sejatine mung kurang siji… Yoiku: NGOPI

NGOPI iku tegese (Ngolah Pikiran), mulo kopi iku rasane PAIT. Nanging sak pait-paite kopi.. isih iso digawe LEGI.

LEGI (Legowo ning ati) / Berlapang Dada Hatinya, carane kudu ditambahi GULO.

GULO (Gulangane Roso) / Mengelola Perasaan Baik, sing asale soko TEBU.

TEBU (Anteb Ning Kalbu) / Mantab Hatinya, banjur diwadahi CANGKIR.

CANGKIR (Nyancangne PiKIR) / Menguatkan Pikiran, trus disiram WEDANG.

WEDANG (Wejangan Sing Marahi Padang) / Nasehat Yang Menentramkan Hati, ojo lali di-UDHEG.

UDHEG (Usahane Ojo Nganti Mandeg) / Usaha Jangan Sampai Berhenti, anggone ngudheg nganggo SENDOK.

SENDOK (Sendhekno Marang Sing Nduwe Kautaman) / Pasrahkan Pada Yang Maha Kuasa, dienteni sithik ben rodo ADEM.

ADEM (Ati digowo Lerem) / Hati Jadi Tenang, njut bar kui lagi di-SERUPUT.

SERUPUT (Sedoyo Rubedo Bakal Luput) / Semua Godaan akan Terhindar.

Meniko Falsafahipun “NGOPI”

Sumonggo… Ngopiii ….☕

Sadulur Kabeh, mugi ing dinten niki tansah, pinaringan sehat soho berkah saking Gusti Allah….

Aamiin 🙏🙏🙏

#hanyaCopas

Menengok pendahulunya, detail patung nanas ini kurang artistik

PEMALANG

Alun-alun adalah reperesentasi dari kota tersebut. Setidaknya pernyataan ini cocklah untuk kota-kota di Jawa. Saya hampir tak pernah menjumpai kota di jawa tak memiliki alun-alun. Alun-alun seakan menjadi identitas, dimana disitu para pengunjung bisa menebak tentang kota yang sedang di singgahinya.
Baru-baru ini kotaku berbenah, alun-alun di pugar, berniat memberi presentasi tentang kota kami tercinta. Sangat berterimakasih, karena kepala daerah kami ternyata memikirkan wajah alun-alun yang dari dulu nampak tak berubah dan kurang perawatan.

Aku pun penasaran, menunggu seperti apa hasil pemugaran itu. Dari beberapa konsep yang sempat terbaca, Pemalang akan menyulap alun-alun menjadi ruang terbuka hijau, icon pemalang, dan lingkungan ramah anak. 

Saya termasuk warga yang setuju dan mendukung penuh wacana itu. Jadi terbayang alun-alun pemalang akan lebih fresh dan asyik untuk nongkrong bareng keluarga.

Kini pemugaran itu mulai menampakan hasilnya, beberapa akun di linimasaku posting patung nanas sebagai pengganti patung pahlawan. 

Yah, dulunya tepat di tengah2 alun-alun kotaku berdiri gagah patung pahlawan. Dengan niat menunjukan icon Pemalang, pemkot kami menggantinya dengan patung nanas. Karena salah satu tempat di kotaku adalah sentra penghasil nanas, nanas kami sudah tersebar ke beberapa kota di Indonesia, yaitu ‘nanas madu belik’. Mungkin dengan ini mampu memotivasi dan mendatangkan sugesti positif, baik untuk warganya maupun pengunjung yang singgah.

Namun, dahiku berkerut seketika melihat penampakan patung nanas itu. Saya berfikir, pastinya untuk memugar, pemkot mengeleuarkan dana yang tak sedikit dan dengan rencana yang matang. Saya tak percaya kalau pemkot kami tak sadar bahwa alun-alun adalah wajahnya kota, ingin memugar pasti dikonsep sedemikian matang.

Namun guys.. Huwftt….(menghela nafas panjang) patung nanas pengganti patung pahlawan yang sekarang terpajang jauh dari angan indahku, jauh dari espektasi. Detil pembuatan aku pikir jauh lebih sulit dan lebih bagus patung yang sebelumnya, dan cagar yang dipakai pun, jauh lebih gahar dipakai nyangga patung pahlawan dulu. 

Aku sedikit kecewa. dalam hati berfikir, apa mungkin patung nanas itu digarap bukan oleh yang berkompeten? Aku melihat Pemalang memiliki banyak seniman patung yang bagus. Tapi kenapa kemudian patung penggantinya terlihat lebih sederhana??

Ini hanya untuk perihal patung sebagai icon.

Aku belum melihat hasil pemugaran yang lain, yang mewacanakan akan merubah menjadi ruang terbuka hijau dan ramah anak.

Oke, dua hal ini semoga menutupi kekecewaan patung tadi. Aamiin..

19-12-2017

Siapa sangka, yang dikira ahli maksiat itu ternyata wali Allah

SEPENGGAL CERITA DI BAWAH LANGIT TURKI

Sultan berkata kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak “. Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun, setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultan pun memanggil mereka, dan mereka sama sekali tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?”

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meninggal, tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?”

Mereka berkata: “Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina.”

Sultan berkata: “Ayo kita bawa ke rumahnya.”

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap: “Semoga Allah merahmatimu wahai WALI Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang shalih.”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. “Bagaimana mungkin dia termasuk WALI Allah, sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.”

Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam, suamiku keluar rumah, pergi ke toko-toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian, minuman-minuman itu di bawa ke rumah, lalu ditumpahkannya ke dalam toilet sambil berkata: ‘Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.’

Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: ‘Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.’ Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.’

Orang-orang pun hanya menyaksikan bagaimana dia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: ‘Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatimu dan menguburkan jenazahmu.’

Ia hanya tertawa dan berkata: ‘Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya.'”

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatinya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 5)

KEIKHLASAN BERJUANG DI PERTEMPURAN ORANG LAIN

(bagian ke lima kisah nyata cerita bersambung)

saya men-dial no telp yang di berikan kepada saya oleh pak aly. Terdengar sapaan salam di seberang telpon dimana kalimat selanjutnya setelah saling salam adalah memperkenalkan diri saya. Pak, saya dapat nomor bapak dari pak Aly yang katanya bapak berminat dengan gedung kami  di jatibening raya bekasi untuk di jadikan swalayan, apa benar?

Dia jawab cepat, iya benar pak. Dan selanjutnya saya langsung tanpa basa-basi menawarkan sebuah harga yang ternyata berlangsung alot karena katanya :  saya harus lapor atasan dulu pak, tapi kalau boleh jujur penawaran bapak ketinggian dari anggaran kami.

Saya pun faham dengan jawaban tersebut, memang “deal” bisnis  dalam keadaan  terdesak atau dalam ke adaan terpaksa itu tidak benar, tidak nyaman. Kita terdesak waktu kita di mainkan “harga” dan ini sangat menyakitkan. Sebuah pesan bijak kepada saya atas peristiwa ini adalah jangan pernah melakukan dealing bisnis dalam keadaaan kepepet.

Semuanya jadi serba terpaksa, semuanya jadi serba tidak terbaik. Terburu-buru adalah hal yang buruk. 

Saya hanya bisa menjawab, ok pak, santai saja, kabari saya kalau sudah ada keputusan.

Padahal mengucapkan kalimat tersebut dengan berat hati.  Dengan “jaim” dan dengan harap-harap cemas. Namun suara kita tetap harus pede, tetap harus meyakinkan. 

Selesai komunikasi tersebut saya pamit balik kerumah. badan remuk rasanya karena sejak semalam perjalanan  panjang sudah saya jalani. Ada hal berat yang sesungguhnya harus saya lakukan kemudian yaitu apakah orang rumah bisa memahami masalah ini?  ini saya rasa berat, sangat berat.

Perjalanan panjang melewati JORR ke arah selatan Jakarta menjadi terasa panjang karena kecemasan dalam diri saya memuncak.

Bahkan banyak lamunan dan bayangan terbersit di kepala saya akan banyak hal yang tidak saya ketahui di depan sana. Sampai telefon berdering beberapa kali pun saya baru “ngeh”. Oh ibu menelfpon dari malang. Saya angkat  dan menyapa assalamu’alaikum ibu. Di jawab waalaikum salam mas. Iya nih ibu ngingetin lusa ibu ke Jakarta, tolong beliin tiket dan jemput ibu di bandara ya mas.

Terus beberes barang mau di pack di bawa kemalang. Dan lusanya 4 hari lagi notaris sudah di siapkan sama tante henny pembeli rumah ibu. Jangan lupa loh dokumen di kasih ke notaris. Foto copy saja dulu, dan ini no notarisnya ibu SMS sebentar lagi ya mas.

Demikian ibu terus berbicara panjang akan rencananya dan rencana setelahnya. Panjang dan bersemaangat.

Saya dalam hati berteriak meratap namun untung tak terdengar suara hati saya ini. Bayangkan  kalau bisa kedengeran suara hati saya ada suara jeritan karena tersayat dan ada suara “keretek- keretek” perlahan seperti gelas yang hendak pecah.

Saya hanya bisa berkata, inggih bu, iya bu, iya bu, baik bu, sumuhun ibu, segera bu, iya, iya, waalaikum salam ibu. Itu komentar saya yang keluar dari mulut saya. Suara hati saya? Jangan Tanya apa “ratapan” yang keluar kalau bisa terdengar ngak tahu lagi namanya apa.

Selang tak lama setelah komunikasi dalam perjalan pulang tadi, saya tiba di rumah.

Saya memarkirkan mobil dan saya beranjak masuk kedalam rumah. Ke tiga anak saya semua sudah di rumah plus sang bayi yang belum setahun. SMP yang paling gede, SD, SD, bayi. Itulah ke empat anak saya.

Istri saya? Nah ini orang paling “berat” jalan hidupnya.

Saya bukan orang yang sempurna dan saya harus mengakui bahw aperkawinan say apertama kandas. Saya tidak malu mengakui saya ini bukan manusia sempurna. Sebuah fakta adalah saya harus berpisah dengan ibu dari kedua anak saya yang pertama. Istri saya sekarang adalah nyambung. Ibu dari dua anak bungsu saya dan ibu tiri dari dua anak remaja. Ngak gampang jaga hati dan jaga diri di dalam meniti hubungan keluarga seperti ini. Tidak gampang. Jangan pernah coba masuk dalam posisi seperti istri saya ini. Berat buat dia, dan berat buat sang suami. Percaya lah.

Secara biologis dan spiritual, betul ke empatnya adalah “bin” mardigu wowiek namun menjadi ibu dari empat anak memangnya mudah? 2 tiri dua kandung, memang mudah? Memenag bisa adil perasaan itu, memang bisa mulus semuanya? Ngak lah!

Kita semua tahu bahwa “respect” atau rasa hormat itu itu harus kita kumpulkan. Kita harus “earn”. Benarlah, bahwa rasa Cinta, rasa hormat dan kepercayaan semua harus kita kumpulan dengan menyicil setiap saat. Kita tidak bisa membeli secara tunai yang namanya cinta, rasa hormat dan kepercayaan. Kit aharus membayarnya dengan menyicil.

Menyicilnya jangka panjang, melelahkan. Begitu juga memantaskan menjadi ibu di 4 orang anak. Tidak gampang. Menyicilnya berat, perlahan, painful. Itulah gambaran singkat tentang  hubungan keluarga kami.

Sehabis sholat magrib berjamaah kami makan malam. Semua informasi cerita apa kejadian hari ini oleh anak-anak mengalir lancar dari mulut mereka. Hingga giliran saya. Saya tercekat bicaranya. Sulit memulai cerita saya. 

Sampai akhirnya saya meminta kita pindah keruang keluarga.

Karena saya terlihat serius mendadak suasana menjadi serius dan menegangkan. Saya kikuk sekali.

Tetapi saya pun harus bercerita, saya bercerita menceritakan apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi. Saya menceritakan tentang kejadian dengan eyang kakungnya dan apa yang terjadi dengan eyang ti nya.

Dan tibalah saya mengharuskan keluar kalimat yang berat saya ucapkan. Saya harus mengatakan “pop the real story” dan melakukan permintaan.

Begini ya bun, begini yang mbak dan mas. Ayah mu ini berhutang air susu ibu ke eyang. Sekarang ada peluang untuk membalas air susu tersebut namun resikonya sangat berat karena kalian ikut menaggung akibatnya.

Ayah ngak ingin sebenarnya sewaktu ayah membayar kewajiban ayah kalian semua ikut menanggung beratnya beban tersebut. Namun kali ini ayah terpakasa lakukan. Ayah terpaksa meminta kalian juga ikut berani menanggung beban ini. Dan ini sekali lagi adalah pilihan sebelum kita lakukan. Kalian yang buat keputusan.

Selanjutanya, ada syarat yang harus kalian sepakati yaitu sampai kapanpun kalau di setujui apa yang akan kita lakukan. Eyang tidak boleh mengetahuinya sampai kapanpun dan sampai waktunya tiba, menurut ayah.

Saya tatap ke5 anggota keluarga saya yang semuanya diam, ekspresi bingung dan galau terlihat jelas. Saya melanjutkan monolog saya, Kita harus “mikul duwur mendem jero”. Kita panggul bersama dan kita pendam kedalam dalam tanpa satupun tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya kembali perhatikan wajah kelimanya yang tegang dan gelisah.

Saya menghela nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat berikut ini, begini nak, begini bun, ayah minta izin untuk menjual seluruh harta kita, rumah kita dan juga ke empat mobil kita untuk menebus hutang eyang. Termasuk gedung yang di pakai rumah yatim. 

Kita mungkin tidak akan punya rumah beberapa saat dan kita ngontrak rumah kecil saja karena uang hampir tak ada sisa. Semua uang tersebut untuk bayar bank dan menebus dokumen rumah eyang. Hal ini adalah sebenarnya kewajiban ayah seorang, bukan kalian. Tetapi kepada siapa lagi ayah minta izin kecuali kepada kalian.

Kalian bisa menolak ide ini, bunda punya hak untuk menolak ide ini, anak-anak pun demikian. Ini sayah tahu kok, tahu sekali, ini bukan “perang kalian” ini bukan hutang susu kalian, namun ayah dengan segala kerendahan hati mohon perkenan dan izin. Dengan berkata begini sebenarnya saya merendahkan diri saya di hadapan keluarga saya. Saya tidak perduli.

Semua terdiam. Satu ruangan tidak ada yang bunyi bersuara.

Semua wajahnya galau. Hingga anak saya pertama si mbak berkata,eehhmm yah,  aku ikhlas yah. Aku ikut ayah aja. Jual aja rumah ini buat eyang. Kita kontrak ngak apa-apa.Dia  berkata sambil matanya berkaca-kaca. Yang dilanjutkan adiknya si mas yang masih kelas 6 SD yang berkata iya ayah, jual aja. Dan tentu dua anak terkecil belum faham belum bersuara.

Tiba di istri saya, dia berkata, ayah..janji satu kepada kami bahwa nanti kelak kita di gantikan dengan rumah yang lebih bagus, yang lebih nyaman. Kapanpun itu bunda ikut saja. Biar kita prihatin dulu selama barneg-bareng ya ngak apa-apa. Bayarkan tunai hutang susu ibu ayah ya, segera. Ini peluang tidak datang dua kali dalam seumur hidup kita. Aku ikhlas yah, sangat ikhlas. Dan dia menetes deras air mata sembari berkata sesegukan.

Rontok seluruh tulang saya seketika mendengar kalimat dari anggota kecil keluarga saya ini. Asli saya hanya bisa mendatangi dan memeluk satu persatu dari mereka. Sekali lagi, ini bukan “their war” ini perjuangan saya namun mereka mendukung.

Saya menangis sejadi-jadinya dan kami pun berpelukan erat semuanya. 

Dalam pelukan tersebut saya hanya mengatakan satu kalimat panjang, bunda terima kasih yan bun, terima kasih.  beri ayah kesempatan untuk membuktikan suami macam apa aku ini. Dan kepada anak-anak saya saya mengatakan , terima kasih ya nak, terima kasih dan izinkan ayahmu membuktikan terbuat dari apa ayahmu ini. #peace (bersambung)

Disalin dari facebook beliau: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1611349402244355&id=100001079316828