Siapa sangka, yang dikira ahli maksiat itu ternyata wali Allah

SEPENGGAL CERITA DI BAWAH LANGIT TURKI

Sultan berkata kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak “. Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun, setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultan pun memanggil mereka, dan mereka sama sekali tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?”

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meninggal, tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?”

Mereka berkata: “Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina.”

Sultan berkata: “Ayo kita bawa ke rumahnya.”

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap: “Semoga Allah merahmatimu wahai WALI Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang shalih.”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. “Bagaimana mungkin dia termasuk WALI Allah, sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.”

Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam, suamiku keluar rumah, pergi ke toko-toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian, minuman-minuman itu di bawa ke rumah, lalu ditumpahkannya ke dalam toilet sambil berkata: ‘Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.’

Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: ‘Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.’ Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.’

Orang-orang pun hanya menyaksikan bagaimana dia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: ‘Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatimu dan menguburkan jenazahmu.’

Ia hanya tertawa dan berkata: ‘Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya.'”

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatinya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)

Advertisements

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 5)

KEIKHLASAN BERJUANG DI PERTEMPURAN ORANG LAIN

(bagian ke lima kisah nyata cerita bersambung)

saya men-dial no telp yang di berikan kepada saya oleh pak aly. Terdengar sapaan salam di seberang telpon dimana kalimat selanjutnya setelah saling salam adalah memperkenalkan diri saya. Pak, saya dapat nomor bapak dari pak Aly yang katanya bapak berminat dengan gedung kami  di jatibening raya bekasi untuk di jadikan swalayan, apa benar?

Dia jawab cepat, iya benar pak. Dan selanjutnya saya langsung tanpa basa-basi menawarkan sebuah harga yang ternyata berlangsung alot karena katanya :  saya harus lapor atasan dulu pak, tapi kalau boleh jujur penawaran bapak ketinggian dari anggaran kami.

Saya pun faham dengan jawaban tersebut, memang “deal” bisnis  dalam keadaan  terdesak atau dalam ke adaan terpaksa itu tidak benar, tidak nyaman. Kita terdesak waktu kita di mainkan “harga” dan ini sangat menyakitkan. Sebuah pesan bijak kepada saya atas peristiwa ini adalah jangan pernah melakukan dealing bisnis dalam keadaaan kepepet.

Semuanya jadi serba terpaksa, semuanya jadi serba tidak terbaik. Terburu-buru adalah hal yang buruk. 

Saya hanya bisa menjawab, ok pak, santai saja, kabari saya kalau sudah ada keputusan.

Padahal mengucapkan kalimat tersebut dengan berat hati.  Dengan “jaim” dan dengan harap-harap cemas. Namun suara kita tetap harus pede, tetap harus meyakinkan. 

Selesai komunikasi tersebut saya pamit balik kerumah. badan remuk rasanya karena sejak semalam perjalanan  panjang sudah saya jalani. Ada hal berat yang sesungguhnya harus saya lakukan kemudian yaitu apakah orang rumah bisa memahami masalah ini?  ini saya rasa berat, sangat berat.

Perjalanan panjang melewati JORR ke arah selatan Jakarta menjadi terasa panjang karena kecemasan dalam diri saya memuncak.

Bahkan banyak lamunan dan bayangan terbersit di kepala saya akan banyak hal yang tidak saya ketahui di depan sana. Sampai telefon berdering beberapa kali pun saya baru “ngeh”. Oh ibu menelfpon dari malang. Saya angkat  dan menyapa assalamu’alaikum ibu. Di jawab waalaikum salam mas. Iya nih ibu ngingetin lusa ibu ke Jakarta, tolong beliin tiket dan jemput ibu di bandara ya mas.

Terus beberes barang mau di pack di bawa kemalang. Dan lusanya 4 hari lagi notaris sudah di siapkan sama tante henny pembeli rumah ibu. Jangan lupa loh dokumen di kasih ke notaris. Foto copy saja dulu, dan ini no notarisnya ibu SMS sebentar lagi ya mas.

Demikian ibu terus berbicara panjang akan rencananya dan rencana setelahnya. Panjang dan bersemaangat.

Saya dalam hati berteriak meratap namun untung tak terdengar suara hati saya ini. Bayangkan  kalau bisa kedengeran suara hati saya ada suara jeritan karena tersayat dan ada suara “keretek- keretek” perlahan seperti gelas yang hendak pecah.

Saya hanya bisa berkata, inggih bu, iya bu, iya bu, baik bu, sumuhun ibu, segera bu, iya, iya, waalaikum salam ibu. Itu komentar saya yang keluar dari mulut saya. Suara hati saya? Jangan Tanya apa “ratapan” yang keluar kalau bisa terdengar ngak tahu lagi namanya apa.

Selang tak lama setelah komunikasi dalam perjalan pulang tadi, saya tiba di rumah.

Saya memarkirkan mobil dan saya beranjak masuk kedalam rumah. Ke tiga anak saya semua sudah di rumah plus sang bayi yang belum setahun. SMP yang paling gede, SD, SD, bayi. Itulah ke empat anak saya.

Istri saya? Nah ini orang paling “berat” jalan hidupnya.

Saya bukan orang yang sempurna dan saya harus mengakui bahw aperkawinan say apertama kandas. Saya tidak malu mengakui saya ini bukan manusia sempurna. Sebuah fakta adalah saya harus berpisah dengan ibu dari kedua anak saya yang pertama. Istri saya sekarang adalah nyambung. Ibu dari dua anak bungsu saya dan ibu tiri dari dua anak remaja. Ngak gampang jaga hati dan jaga diri di dalam meniti hubungan keluarga seperti ini. Tidak gampang. Jangan pernah coba masuk dalam posisi seperti istri saya ini. Berat buat dia, dan berat buat sang suami. Percaya lah.

Secara biologis dan spiritual, betul ke empatnya adalah “bin” mardigu wowiek namun menjadi ibu dari empat anak memangnya mudah? 2 tiri dua kandung, memang mudah? Memenag bisa adil perasaan itu, memang bisa mulus semuanya? Ngak lah!

Kita semua tahu bahwa “respect” atau rasa hormat itu itu harus kita kumpulkan. Kita harus “earn”. Benarlah, bahwa rasa Cinta, rasa hormat dan kepercayaan semua harus kita kumpulan dengan menyicil setiap saat. Kita tidak bisa membeli secara tunai yang namanya cinta, rasa hormat dan kepercayaan. Kit aharus membayarnya dengan menyicil.

Menyicilnya jangka panjang, melelahkan. Begitu juga memantaskan menjadi ibu di 4 orang anak. Tidak gampang. Menyicilnya berat, perlahan, painful. Itulah gambaran singkat tentang  hubungan keluarga kami.

Sehabis sholat magrib berjamaah kami makan malam. Semua informasi cerita apa kejadian hari ini oleh anak-anak mengalir lancar dari mulut mereka. Hingga giliran saya. Saya tercekat bicaranya. Sulit memulai cerita saya. 

Sampai akhirnya saya meminta kita pindah keruang keluarga.

Karena saya terlihat serius mendadak suasana menjadi serius dan menegangkan. Saya kikuk sekali.

Tetapi saya pun harus bercerita, saya bercerita menceritakan apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi. Saya menceritakan tentang kejadian dengan eyang kakungnya dan apa yang terjadi dengan eyang ti nya.

Dan tibalah saya mengharuskan keluar kalimat yang berat saya ucapkan. Saya harus mengatakan “pop the real story” dan melakukan permintaan.

Begini ya bun, begini yang mbak dan mas. Ayah mu ini berhutang air susu ibu ke eyang. Sekarang ada peluang untuk membalas air susu tersebut namun resikonya sangat berat karena kalian ikut menaggung akibatnya.

Ayah ngak ingin sebenarnya sewaktu ayah membayar kewajiban ayah kalian semua ikut menanggung beratnya beban tersebut. Namun kali ini ayah terpakasa lakukan. Ayah terpaksa meminta kalian juga ikut berani menanggung beban ini. Dan ini sekali lagi adalah pilihan sebelum kita lakukan. Kalian yang buat keputusan.

Selanjutanya, ada syarat yang harus kalian sepakati yaitu sampai kapanpun kalau di setujui apa yang akan kita lakukan. Eyang tidak boleh mengetahuinya sampai kapanpun dan sampai waktunya tiba, menurut ayah.

Saya tatap ke5 anggota keluarga saya yang semuanya diam, ekspresi bingung dan galau terlihat jelas. Saya melanjutkan monolog saya, Kita harus “mikul duwur mendem jero”. Kita panggul bersama dan kita pendam kedalam dalam tanpa satupun tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya kembali perhatikan wajah kelimanya yang tegang dan gelisah.

Saya menghela nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat berikut ini, begini nak, begini bun, ayah minta izin untuk menjual seluruh harta kita, rumah kita dan juga ke empat mobil kita untuk menebus hutang eyang. Termasuk gedung yang di pakai rumah yatim. 

Kita mungkin tidak akan punya rumah beberapa saat dan kita ngontrak rumah kecil saja karena uang hampir tak ada sisa. Semua uang tersebut untuk bayar bank dan menebus dokumen rumah eyang. Hal ini adalah sebenarnya kewajiban ayah seorang, bukan kalian. Tetapi kepada siapa lagi ayah minta izin kecuali kepada kalian.

Kalian bisa menolak ide ini, bunda punya hak untuk menolak ide ini, anak-anak pun demikian. Ini sayah tahu kok, tahu sekali, ini bukan “perang kalian” ini bukan hutang susu kalian, namun ayah dengan segala kerendahan hati mohon perkenan dan izin. Dengan berkata begini sebenarnya saya merendahkan diri saya di hadapan keluarga saya. Saya tidak perduli.

Semua terdiam. Satu ruangan tidak ada yang bunyi bersuara.

Semua wajahnya galau. Hingga anak saya pertama si mbak berkata,eehhmm yah,  aku ikhlas yah. Aku ikut ayah aja. Jual aja rumah ini buat eyang. Kita kontrak ngak apa-apa.Dia  berkata sambil matanya berkaca-kaca. Yang dilanjutkan adiknya si mas yang masih kelas 6 SD yang berkata iya ayah, jual aja. Dan tentu dua anak terkecil belum faham belum bersuara.

Tiba di istri saya, dia berkata, ayah..janji satu kepada kami bahwa nanti kelak kita di gantikan dengan rumah yang lebih bagus, yang lebih nyaman. Kapanpun itu bunda ikut saja. Biar kita prihatin dulu selama barneg-bareng ya ngak apa-apa. Bayarkan tunai hutang susu ibu ayah ya, segera. Ini peluang tidak datang dua kali dalam seumur hidup kita. Aku ikhlas yah, sangat ikhlas. Dan dia menetes deras air mata sembari berkata sesegukan.

Rontok seluruh tulang saya seketika mendengar kalimat dari anggota kecil keluarga saya ini. Asli saya hanya bisa mendatangi dan memeluk satu persatu dari mereka. Sekali lagi, ini bukan “their war” ini perjuangan saya namun mereka mendukung.

Saya menangis sejadi-jadinya dan kami pun berpelukan erat semuanya. 

Dalam pelukan tersebut saya hanya mengatakan satu kalimat panjang, bunda terima kasih yan bun, terima kasih.  beri ayah kesempatan untuk membuktikan suami macam apa aku ini. Dan kepada anak-anak saya saya mengatakan , terima kasih ya nak, terima kasih dan izinkan ayahmu membuktikan terbuat dari apa ayahmu ini. #peace (bersambung)

Disalin dari facebook beliau: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1611349402244355&id=100001079316828

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 4)

BERSYUKUR DAN BERSALAH

(bagian ke empat kisah nyata cerita bersambung)

Begini pak Aly demikian saya membuka cerita. Almarhum ayah berbisnis dengan menjaminkan asset rumah ternyata mitra usahanya tidak amanah. Tidak pernah membayar dan tidak pernah menyicil. Sewaktu di gadaikan jadi avails, jaminan tambahan nilai rumah di mark up tinggi sekali. Sewaktu itu ibu ikut tanda tangan.

Sebagaimana seorang yang awam, ibu pikir semua sudah lunas sudah ngak ada masalah dan dokumennya ada sama saya.

Karena itu ibu terfikir ingin menjual rumah tersebut karena sudah lewat seribu hari almarhum bapak. Dia mau pindah ke tempat kelahiranya lagi di Malang. 

Saya lalu ke bank dan tenyata pinjaman plus beban uang kalau di bading dengan harga ruma itu di jual nilainya NOL, padahal semua bunga sudah di hair cut, sudah di potong hanya pokok. Karena dulu di mark up di tambah provisi, maka nilanya jika di jual ibu hanya mendapat surat saja, ngak ada uangnya.

Saya lalu mengejar si penjahat Julian ini, ternyata ketika saya ketemu kemarin malam, dia juga tidak dalam kondisi memiliki uang tersebut. Diakatakan proyeknya bermasalah dan dia ada masalah dnegan istrinya yang kena cancer.

Pak aly dia saja ketika saya berbicara berdua di mushola di lantai dua tersebut.

Saya lalu ingin melakukan alternative terakhir. Say alihat asset saya ternyata ada banyak yang sedang di pakai sebagai avails proyek dan yang free hanya tinggal rumah cinere dan 4 mobil. Jika di jual sekarang dengan masa sulit seperti ini kalau mau jual cepat paling hanya laku 80% menutupi beban asset ibu.

Itupun saya tidak tahu bicara apa dengan keluarga di rumah, dengan istri dan anak saya, saya tidak tahu. Apa lagi saya melepas asset yang di pakai yayasan, di pakai rumah yatim ini. Saya berat pilihannya, saya ke sini hanay untuk share ke sampeyan saja.

Pak aly masih terdiam. 

Saya lanjutkan cerita saya, 4 hari lagi tetangga sahabat ibu akan melakukan transaksi dan sudah cocok harga. Dia minat membeli rumah tersebut. Harganya bagus namun saya bingung karena jika kebeneran yang saya katakana kepada ibu bahwa ketika transaski di bayar uangnya semua di ambil bank, saya mesti bagaimana? Ibu pasti rubuh. Pasti kecewa dan sedih berkepanjangan.

Sementara saya harus putuskan sesuatu dengan itu saya memerlukan banyak masukan. Kalau waktunya bukan 4 hari maka ceritanya lain. Namun 4 hari adalah 4 hari adalah 96 jam.

Sebentar mas, saya panggil pengurus. Coba saya rembukan.

Oh jangan pak Aly, ini buat sampeyan saja dan saya ngak minta apapun hanya perlu teman berbagi. 

Pak Aly hanya tersenyum dan melangkah ke tangga menuju ke bawah. Dan saya tahu ada orang dalam kantor kecil di bawah. Saya pun berdiri dan melihat sekeliling , anak-anak sebagian sedang membersihkan sisa masakan dan makanan.  Dan saya sesaat melamun.

Suara saya terpecah dengan sapaan, assalamu’alikum pak! Dan saya jawab segera waalalikum salam.

Tampak 4 pengurus hadir di sekeliling saya. Setelah menyalami kesemuanya, kami berlima duduk melingkar. Pak aly buka bicara. Mas, kami putuskan kita pindah ke Tasikmalaya dan sebaiknya gedung ini di jual untuk menebus rumah ibu.

Duaaar, saya seperti tersambar geledek. Loh kok gitu pak aly?

Begini mas wowiek, kami merasa rumah yatim sudah bisa berdiri sendiri di manapun dan rumah yatim tidak ada masalah apapun. Sementara mas wowiek punya masalah besar dimana kalaupun rumah ibu berhasil di tebus dengan sekemampuan mas wowiek tetap mas wowiek dalam ke adaan minus.

Mas wowiek tidak punya asset rumah , tidak punya kendaraan dan banyak lagi persoalan yang akan di hadapi kedepannya. Sementara kita di rumah yatim, hanya  memindahkan kantor saja. Sederhana. Dan kami tadi hanya bicara 5 menit, semua sepakat  setuju.

Pak aly melanjutkan, Syurga ada di telapak kaki ibu mas, apa yang mas wowiek akan perbuat masih belum ada apa-apanya untuk mencapai ridho orang tua. Kami melihat peluang membantu sesama, mengapa kami harus berfikri dua kali. Ini juga bagian dari Jihad rumah yatim mas.

Saya melonggo. Air mata saya menetes deras. Ya Allah ya Robb…maafkan  keputusan ini ya Allah kalau salah pasti karena kami manusia biasa dan kalau ini kebenaran dari MU mohon permudah jalan bagi Rumah Yatim kedepannya.

Saya membungkuk khan diri bersujud di sajadah mushola tersebut. Bisa jadi ini sujud terakhir di ruang ini yang akan kami putuskan untuk di lepas asset ini.

Tak lama  pak aly berkata, mas, sebenernya yang naksir bangunan ini banyak, salah satunya adalah swalayan besar yang membeli semua toko mirah. Dan ini momor telpon nya. Pak Aly menyodorkan sebuah kartu nama ketika sujud saya selesai.

Syukron pak Aly. Saya melihat kartu nama tersebut dan ada nomor telpon dan nama pejabat peminat gdeung ini yang di sodorkan pak aly dan saya kemudian berkata, bada azhar saya telpon pak.  Kemudian saya bersiap-siap kebawah untuk mengambil wudlu karena akan sholat azhar. Setiap ketemu anak anak, mereka bukan cium tangan saya tetapi memeluk saya. Saya heran namun saya bisa pastikan, kakak Pembina kakak asuh dan pak aly sudah mengabari mereka.

Wajah mereka polos menatap saya, memeluk saya dan berkata:  insyaAllah berkah pak. Yang lainya berkata : Tabah ya pak, dan banyak lagi kata-kata penyemangat tersebut. Ya Allah ya robb, anak-anak ini baik-baik sekali, terma kasih nak demikian komentar saya. saya benar-benar tidak kuasa menahan tangis air mata di pipi saya. Deras air mata mengalir dan pikiran saya galau di  antara bersyukur dan bersalah itu tidak enak sekali rasanya. #peace (bersambung)

Disalin dari facebook beliau: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1610444775668151&id=100001079316828

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 3)

KEPUTUSAN PECUNDANG

 (Sebuah kisah nyata bersambung berlanjut tulisan ke tiga)

Ke Cinere pak, demkian saya mengucapkan alamat yang akan di tuju ketika menutup pintu taxi di bandara menuju rumah saya. Perjalanan di bandara Changi yaitu penerbangan singapura Jakarta tidak terasa karena saya habiskan dengan tidur dari sejak di ruang tunggu kemudian sholat subuh tepat sebelum boarding dan tidur kembali begitu badan menempel di bangku pesawat.

Cinerenya mana pak? Supir taxi meminta kepastian arah. 

Deket lapangan golf pangkalan jati pak, Demikian kalimat saya menjawab yang membuat supir taxi mengangguk dan melaju taxinya dengan kencang. Saya yang duduk di belakangpun kembali kosong isi pikiran saya dan pastinya tatapan saya menatap terangnya matahari jam 7 an pagi di bandara sukarno hatta ini, membuat mata saya berat, masih ngantuk, masih sepet seperti kehidupan yang sedang saya jalani dan tak lama kemudian saya tertidur kembali, lelap.

Maaf pak, rumahnya di sebelah mana? Suara supir taxi membangunkan tidur saya.

Saya menatap jalanan dan melihat gerbang masuk lapangan golf pangkalan jati yang saya langsung berkata, belok kanan, dan nanti belokan pertama ke kiri pak, rumah no 11.

Dalam hitungan 3 menit taxi berhenti tepat di depan rumah saya berpagar abu-abu tua dan putih ini.

Saya membayar harga taxi dan saya pun turun melangkah gontai. Arah langkah saya bukan kerumah saya tetapi ke rumah seberangnya dan membalik badan kearah rumah saya, lalu menatap dengan seksama rumah saya dari depan.

Saya perhatikan dengan perlahan mata saya menyapu seluruh pemandangan akan rumah saya ini. Kalau rumah ini di jual, berapa nilainya sekarang? Demikian dalam hati saya bertanya. Saya memang ada asset sedikit di tempat lain, tetapi semua sudah di gadaikan untuk jaminan proyek saya di bank. Hanya rumah ini saja yang bebas.

Saya perhatikan sekali lagi dengan seksama. Masih bagus namun pertanyaannya berapa harganya? Mengingat waktu tinggal 4 hari lagi. Mengingat saat ini tahun berat bagi property. Tahun 2008 tahun lalunya adalah tahun bencana property dengan sub-prime mortgage yang banyak menimbulkan efek financial negative di seluruh dunia termasuk Indonesia tak tercuali dan sekarang setahun lewat yaitu masa itu di tahun 2009. Rasanya sulit menjual rumah dnegan harga tinggi.

Saya bayangkan dan mencoba kalkulasi jika saya diskon 20% dari market price harga rumah tersebut ternyata tidak menutupi hutang rumah ibu. Kemudian saya tatap garasi rumah ada 2 mobil berjajar, mobil saya 4 kala itu, dan pastinya 2 mobil keluar mengatar anak sekolah ke tiga anak saya. Yang nomor 4 masih bayi. Dengan mobil tersebut ke empatnya saya mulai mengitung nilainya, rasanya juga masih kurang.

Pikiran saya berkecamuk, rumah dan seluruh harta dijual ternyata masih kurang dengan hutang kewajiban rumah ibu. Belum lagi anak-anak tinggal dimana? Mobilisasi bagaimana? Banyak hal yang berseliweran di otak saya. Belum lagi apa kata anak-anak? Apa kata istri? Apa kata keluarga? Apa kata ibu?

Saya tidak siap untuk hal baru yang saya tidak ketahui apa kedepanya. Namun mengatakan kebenaran kepada ibu menjadi opsi yang mendadak hilang dalam pikiran saya. Entah apa yang supir taxi di singapura masukan ke otak saya, saya menyetujui nasehatnya.

Lalu pikiran gila saya keluar. Karena saya tahu saya memiliki 1 aset lagi yang lokasinya sangat stretagis, sangat bagus dan pasti cepat di jualnya. Kalau di tambahkan dengan harta ini pas, rumah ibu terlunasi.

Namun hal ini paling berat, jauh lebih berat lagi untuk saya melakukannya. Jauh lebih berat dari pada menjual harta milik keluarga yang herus melepas rumah, benar jauh lebih berat. Saya terus berfikir akan hal itu dan bener-benar membuat saya jadi semakin bingung.

Namun saya tidak punya pilihan banyak lagi. Pilihan saya sedikit dan waktu saya terbatas.

Saya putuskan kemudian masuk kerumah dan mengebel pintu yang tak lama pembantu membukakan pintu dan saya berkata, tolong buatin indomie goreng dua pake telor dadar rebus ya seperti kebiasaan saya. Bumbu satu tambah bumbu asli bawang putih bawah merah merica sedikit garam.

Sama si ipul suruh panasin mobil hitam ya. Setenagh jam lagi saya mau jalan. Demikian perintah berlapis saya kepembantu saya di depan pagar rumah.

Saya masuk kerumah, istri lagi meniduri si bayi bungsu dan salim salam sebentar saya ceritakan ringkas. Dan dia hanya mendengarkan. Lalu saya bergegas kekamar mandi. Seluruh kegiatan di kamar mandi saya tuntaskan dalam 15 sudah ganti baju siap jalan.

Mau kemana ayah? Demikian istri saya bertanya.

Ke jatibening? Ke pak Aly. Sebuah kata tegas dari saya, yang dia tahu saya tidak mengharapkan ada pertanyaan lebih banyak lagi. Wajah saya lelah, mata saya lelah, pikiran saya loaded, penuh. Makan mie goreng tidak habis dan saya sisakan buat istri saja, saya pun berangkat ke jatibening bekasi.

Seperti perkataan saya sebelum ini, itulah asset yang tadi saya katakan, sulit di per-imbangkan karena lebih berat melepas asset ini dari pada melepas asset rumah tinggal saya.

Perjalanan cinere bekasi memakan waktu hampir 1,5 jam dan tibalah saya di lokasi tersebut. Saya tidak langsung masuk kelokasi tersebut, tetapi saya parkir di toko tepat di sebelah lokasi asset yang saya maksud.

Saya perhatikan gedung dua lantai ini dengan halaman luas yang bisa untuk parkir 10 mobil dan ada satu pohon mangga yang besar di dekat ujung halaman.

Lokasinya yang di hook membuat asset ini bisa di lihat dari 3 lokasi. Saya menatap lama dan saya kembali ke ingat di suatu masa sebelum lokasi ini menjadi seperti sekarang. Yaitu tahun 1996, 13 tahun yang lalu terhitung waktu saya berdiri di gedung ini saat itu.

Tahun 1996 adalah perjalanan spiritual ber-haji pertama kali saya. Saya berangkat dengan dua nenek saya. Satu nenek dari pihak ibu satu nenek dari pihak bapak. Itu memang niat saya dari awal. Saya ingin menghajikan mereka berdua dan saya yang mengurus prosesi mereka selama berhaji.

Saya singkat ceritanya, ketika akan melempar jumroh maka kita semua menunggu masa yang pas sekitar sehabis dhuha saya menunggu antrian agak kosong mengingat saya membawa dua orang nenek-nenek berusia hampir 70 tahun usianya.

Setiap jamaah yang kembali dari melempar jumroh balik ketenda menasehati saya untuk menunda sebentar karena masih penuh dan saya pun memanfaatkan membaca al quran. Sampailah saya membaca surah al kahfi, surah 18 dari al quran itu di ayat 82 saya terhenti lama. Saya sampai bolak balik.

Ini bukan al quran depag pakai terjemahan namun ya alquran tanpa terjemahan yang sedikit-sedikit secara kata bahasa al quran saya memang bisa faham.

Saya lama mengartikan versi saya loh ini tentang ayat tersebut di mana terjemahan versi saya adalah “…menurut nabi Khidir rumah itu milik anak yatim dan rumah yatim itu ada hartanya”.

Saya tersentak terdiam lama. Mengartikan bolak balik versi saya “rumah yatim ada harta”. Sepenggal kalimat itu saya sampai stabilo agar saya ingat dan saya pastikan. Dan bagi saya kata-kata ini adalah RUMUS. 

Entah angin apa yang menyamber saya saya putuskan saya harus buat rumah untuk kaum yatim, dan pasti ada harta di situ. Itu tulisan di quran yang saya percaya. Seingat saya setelah pencerahan itu saya bawa kedua mbah putri saya tersebut melempar jumroh di 3 lokasi, yang kami cukup heran karena kosong, song, kosong. Sampai kami bisa nyender di bibir mangkuk besar penampang tumpukan batu sehingga kedua mbakhsaya bisa melempar mengenai batu besar simbol iblis itu telak kena di lempar mbah yang sepuh ini, bertkali-kali. Saya senang sekali dan kembali ketenda, dimana semua rombongan jamaah heran kok di saat terpenuh tersesak kami berangkat cepat dan pulang cepat, yang sampai sekarang juga saya heran karena kami bertiga bilang, sepi. Yo wis, itu khan pengalaman kami bertiga.

Kembali saya berdiri di gedung 2 lantai di daerah jati bening raya bekasi itu. Saya berdiri di seberang jalan di dekat pak buah, tukang buah langganan kami. Terpampang tulisan besar Rumah Yatim Indonesia di depan tempat parker dimana saya menatap di seberangnya. Ya inilah panti yatim saya pertama, kantor pusatnya RYI.

Saya termangu. 

Suara Adzan dhuzhur keluar dari rumah yatim yang tanpa speaker namun keras juga terdengar hingga keluar jauh memecah lamunan saya. 

Saya bergegas mengambil air wudlu ke dalam kantor dan panti yatim tersebut mengantri terakhir dan bias menghindari hamper semua anak menyempatkan mencium tangan saya dan seperti biasa saya risih. Namun mereka anak saya.

Ada 49 anak yang tinggal di dalam panti saat itu, yang sisanya sekitar 50 an tetap dengan orang tuannya. Namun jam pelajaran diniyah mereka di panti yatim semua sampai isya.

Pak aly mengimami dan saya makmum di belakangnya di lantai dua gedung panti tersebut. Selesai ibadah tersebut kami makan siang. Makan siang bersama bakso kuah dan nasi. Saya makan dengan anak-anak, seperti kebiasaan saya sudah tahunan kalau saya menyempatkan sebulan 2 kali ke panti ini.

Pak aly membuka percakapan, ada apa mas tumben siang-siang ke sini?

Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya. Saya malah bertanya, bagaimana perkembangan organisasi kita ini? Karena biasanya pengasuh dan kakak Pembina rame dan hari itu hanya pak aly. Pak aly adalah orang yang pertama bersama saya membangun organisasi rumah yatim Indonesia ini.

Panjang ceritanya sebenarnya, namun saya coba ringkas.

Sepulang haji saya berkata kepada adik saya dimana kami memiliki 23 toko swalayan bernama toko mirah swalayan. Salah satunya gedung ini namun saya berkata bahwa saya mau wakaf kan untuk panti yatim dan adik saya ok saja lah memang saya yang punya.

Di kemudian hari toko mirah semunya di beli oleh jaringan swalayan terbesar di Indonesia alias, 20 pertama toko swalayan mereka itu mengambil jaringan yang saya bangun. Cukup geer juga, namun dari awal niat saya memang bukan main retail ini jadi ya exit di tawar harga bagus.

Kembali ke panti yatim. Saya lama kenal dengan pesantren hidayatullah, dan dari para pimpinan hidayatulah tersebut saya di kenalkan ke pak Aly ini. Disinilah mulai manajemen panti yatim berjalan.

Tadinya saya pelihara 49 anak dan semua biaya saya yang tanggung. Apgi mereka sekilah umum biasa, siang sampai malam diniyah pelajaran agama di panti. Jadi mereka semua punya ijasah sekolah umum. Dan punya ketrampilan agama.

Sampai semuanya tamat SMA mereka 2 tahun berbakti buat adik-adiknya baru kami lepas kemasyarakat.

Dan ketika 49 anak tersebuat sudah lepas, saya tidak lagi urun rembug manajemen langsung karena rumah yatim sudah besar. Ada 50 lebih underbow organisasi yang bergabung dan ada lebih 10.000 di masa puncaknya anak yatim dan santri yatim yang kami kelaola, saat ini (2017) hanya 6.000an.

Maaf ini bukan cerita tentang Rumah Yatim Indonesia. Ini cerita tentang hutang yang saya harus tanggung.

Kembali ke pak aly. Saya bertanya setelah penjelasan perkembangan rumah yatim. Pak, nyuwon sewu nggih, boleh kah pak aly ingat kembali apa akad saya terhadap gedung ini. Saya hanya mau mengingat kembali supaya saya tidak salah faham.

Pak aly berkata, wah mas ini sudah Tanya puluhan kali.

Iya pak aly, akad itu janji soalnya. Say amencoba menyakinkan dirinya

Seingat saya, rumah yatim Indonesia manfaatkan gedung dan lahan ini untuk gerakan social berjamaah membangun kaum dhuafa dan yatim.

Sekali lagi pak aly?

Manfaatkan gedung ini,kata pak aly

Tidak pernah saya katakanagedung dan tanah ini “untuk” rumah yatim ?

Ngak mas, ada kok suratnya. Dan diapun melihatkan surat wasiat tersebut. Benar saya mengatakan manfaatkan gedung dan lahan ini untuk rumah yatim.

O iya kalau Tanah kita di bekasi utara berapa besar pak aly? Say bertanya lagi

Di jawab olehnya, 1 ha lebih sedikit.

Kalau yang di tasik? Saya bertanya lagi.

3 hektar lebih, kata pak aly.

Mungkinkan rumah yatim operasinya kita geser ke bekasi utara atau ke tasik? Saya bertanya.

Pak aly terdiam dan menatap saya lama. Saya pun diam dan menundukkan wajah saya. Pak aly pun dengan wajah berubah sendu berkata, ada apa mas? Bukan mas wowiek yang saya kenal 15 tahun ini, demikian pak aly berkata dengan lembut.

 Saya menarik nafas panjang dan lama. Saya belum menjawab pertanyaannya, namun di dalam hati saya mulai berkecamuk pertanyaan dan pernyataan. Apakah panti ini asetnya harus saya lepas? Saya terus bicara dalam hati dan sahabat saya di depan saya menanti sebuah kata keluar dari lidah saya, dan tidak bisa keluar. #peace (bersambung)

Disalin dari facebook beliau: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1606439606068668&id=100001079316828

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 2)

PECUNDANG 

(bagian kedua kisah nyata cerita bersambung)

Saya langkahkan kaki saya kembali kejalan raya. Pikiran saya hanya satu , menuju bandara changi. “Last flight” sudah lewat, ambil pesawat jam pertama jam 5.45 waktu setempat, balik ke Jakarta. dan waktu itu 5 jam lagi.

MRT sudah tidak ada yang jalan, bus umum pun sudah tidak ada yang beroperasi. Taxi meteran selalu penuh. Posisi rumah Julian dekat dengan esplanade dimana pasti malam ini sepertinya ada acara kalau melihat taxi selalu penuh dari arah gedung opera itu.

Saya menunggu dengan sabar karena tidak tahu juga mau ngapain. Tiket “go show” saja di bandara. Lalu saya mengambil telefon genggam saya dan mencoba menghubungi adik saya. siapa tahu dia belum tidur.

Telepon berdering lama, sampai ada jawaban di sisi seberang sana. Assalalmualakum, iya mas!!

Bang, ade ada? Masih bangun dia? Saya bertanya kepada penerima telefon. Yang menerima adalah adik ipar saya yang orang medan asal daerah kisaran ini. ya mas sebentar, kayaknya baru mau tidur. 

De, ini kang mas kau, demikian logat sumatera utara nya kental walau 10 tahun tinggal di malang tidak merubah apapun dari logatnya.

Ya mas, terdengar suara adik saya di sisi telepon. Lu dimana mas? Kok suara telephon nya begini? 

Aku di singpur de, aku ketemu Julian. Saya menjawab dengan nada datar

Terus? Adik saya meminta penjelasan

Julian hidupnya “screw up” juga ternyata. Katanya bisnis nya berantakan dan bininya kena cancer. Tadi pas aku ketemu istrinya muntah darah sekarang ke rumah sakit mereka. Ya aku balik lah.

Ah mas, lu gila juga deh pakai ke singapur segala. Bank bagaimana? Kita dapat hair cut?

Mau, tetapi masih ada biaya-biaya, gapapa lah yang penting ada putusan cepat daro bank dan aku sudah tanda tangani kesepakatan. Lagi kondisi begini di putusan sekarang dan harus cepat yang sakit paling satu dua, di putuskan lama-lama yang sakit bisa semuanya.

Jiaah lu, masih berfilosofi lagi. Adik saya nyindir.

Jadi bagaiman sekarang? , 4 hari lagi transaksi lo, ibu sudah ngingetin tadi malam bada isya.

Gimana ya dek? Apa kita bilang apa adanya. Aku ngak tahu harus bagaimana lagi.

Ah lu gila mas, jangan, ibu kita sudah cukup susah dan berat perjalanannya, masak punya anak dua ngak bisa bantu apa-apa malah menyerah kalah.

Duit aku kurang de. Duit adek?

Ya sedikit banget tunainya tetapi asset ada, pabrik pupuk di pujon sama rumah ini.

Ah lu gila mau lepas rumah, saya komentar begitu. Juga pabrik pupuk organic walau kecil menghasilkan. Dalam kondisi begini jangan pernah lepas asset produktif dek. Aku pernah peunya pengalaman khan 10 tahun lalu. Kita pakai cara lain.

Ya tetap saja aku ngak bisa bantu banyak mas, kata adik saya. tunai seadanya aku dorong lah.

Selagi diskusi, sebuah taxi berhenti tepat di depan saya dan saya matikan telephon adik saya, de aku naik taxi dulu, call you back ya ketika sampai bandara.

Ngak usah mas, aku mau tidur, besok antar ibu ke dokter chek up. Safe flight ya.

Saya menghempaskan badan saya ke bangku taxi belakang dan berkata, airport please garuda.

Supir tersebut mengangguk dan berkata, very well sir. Dan dia pun menatap sekilas wakah saya dengan sudut matanya lalu berkata, you look like shit what happened? 

Hah, kaget juga saya di komentari seperti itu dalam hati saya. Saya tidak langsung menjawab tetapi balik memperhatikan dirnya sang supir. Perawakannya sedang, berkulit gelap, ber wajahnya gelap dan berkumis. Menurut tebakan saya usianya rasanya lebih dari 6o tahun.

Are you indian sir? Saya bertanya balik.

Dia tersenyum, I’m half indian half malay, I was born Malaysia, now Singapore citizen. 

Saya basa basi, well you look like a very wise person, I can see from your face

No lah, I am a person who made a lot of mistake until present young man, that why I notice you are quite mess up because I know that looks!

Bener pak, saya mess up.

Tell me story, its sleepy time this hours. Dia meminta say abercerita di tengah malam dari pada ngantuk.

Well.. ok i tell you my short story, kemudian saya pun bercerita singkat kisah saya. intinya saya tidak tahu jalan keluar lagi untuk menutupi kekurangan uang untuk bank makanya terfikir untuk memberi tahu ibu apa adanya.

What? Kalau kamu mengatakan sebenarnya kamu akan menyakiti ibu kamu! Demikian dia setengah berteriak yang mengagetkan saya balik.

No no no young man, no! absolutely NO!

You are muslim aren’t you? Dia bertanya apakah saya muslim. Yes sir saya jawab cepat. I’m muslim too, demikian di menjelaskan posisi dia.

Kita tahu bahwe kita dilahirkan oleh ibu kite .. ahhh dalam hati saye berkate, diapun mulai cakap melayu sekarang. Ya lebih baik lah dari pada singlish singapur English, pusing kepala saya, mendengar singlish di telinga saya.

Young man, saya sekedar mengingatkan, tak niat menguru i. kita jangan pernah membuat sedikitpun hati ibu kita tergetar akan kecewa atau sedih karena perbuatan kite.

Jangan, jangan sekalipun. Ibu kita akan susah karena kita mengatakan sebenarnya. Ingat, kebenaran yang paling terbenar adalah kebenaran yang tak menohok hati siapapun. Kalau kau mengatakan kebenaran namun hati ibumu tertohok, kebenaran apa yang kau bawa itu? Huh!. Ingat ya, yang sebenarnya di ungkapkan itu bukan yang terbaik. Jangan-jangan itu hanya pelarian kamu atas ketidak mampuan kamu. Itu bukan kebenaran yang kamu akan lakukan.

Kamu ini pecundang sebenarnya kalau ibu kamu tersakiti oleh perbuatan kamu. Walau kamu bilang tadi akan mengatakan hal sebenar benarnya. 

Saya berkerut kening mendengar perkataannya karena merasa saya tidak berbuat apapun hanya berusaha menyelamatkan namun sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.

Melihat wajah saya berkerut melalui kaca spion nya dia tersenyum. Kamu kecewa dikatakan pecundang oleh saya ya? Lebih baik kamu kecewa oleh saya namun kamu tidak mengecewakan ibu kamu karena saya.

Saya diam saja.

Kamu tahu, kita orang muslim punya sebuah pelajaran, bahwa kita berhutang air susu ibu kita itu banyak sekali. Apapun yang kamu perbuat untuk ibumu masih jauh dari apa yang ibumu pernah berikan kepadamu. Hutang air susu ibumu tak akan pernah terbayar oleh perbuatan kamu apapun itu.

Dan satu lagi kamu harus ingat. Hati ibumu. Jangan kamu bermain-main kebaikan hati ibumu. Benarlah Hatinya seorang ibu seluas samudera, benar. hati ibu seperti air. Benar. Hati ibu bagai air itu mengalir selalu mencari ketempat yang lebih rendah, benar. itu lah hati seorang ibu kepada anaknya. Dan jangan kamu mafaatkan hati sang ibu itu. Jangan.

 Kamu boleh ambil ember, lalu kamu isi air. Kalau ambil pedang tajam lalu kamu belah itu air pakai pedang tajam kamu tadi. Air terbelah ketika pedang menebas. Namun tak lama air itu menutup kembali seperti semula.

Itulah hati ibumu, itulah hati setiap ibu kepada anaknya.

Dan kamu mau menyakiti hati ibu kamu? Dengan akan mengatakan kamu tidak mampu dan ingin menyerah dengan mengatakan kebenaran?!!! Benar hati ibu kamu nanti akan menutup kembali bagai air terbelah pedang tadi. namun ingat dia melihat satu hal daripada kamu, kamu anak yang pecundang.

Jangan coba-coba belah hati ibumu. Kamu masih berhutang air susu ibumu. Faham kamu nak?!!!!

Mendengar kata-kata itu, saya senderkan lebih rendah lagi posisi duduk saya ke tempat duduk taxi di belakang . di saat “down” begini, ada seorang yang menasehati saya dari sisi lain kehidupan yang membuat sesak dada saya. Seketika semua lampu jalanan saat itu mendadak menjadi terlalu silau.

Terlalu bersinar, karena ternyata efek dari air mata di mata saya yang mengembang tak menetes namun berkumpul di pelupuk mata yang memuat semua pemandangan lampu jalanan menjadi berpijar menyilaukan. Saya tahu jika saya kedipkan kelopak mata ini, air mata tersebut pasti tumpah. Saya hanya bisa menaikan telapak jemari tangan saya menyapu muka saya sekaligus menepis air di kelompak mata dengan rapuan telapak tangan di wajah saya. Lama wajah saya saya tutup telapak tangan saya. hingga terdengar suara…

Gate 1, garuda sir, that will be 37 dollar. Suaranya merdu datar dan sopan mengingatkan saya sudah tiba di change aiport. 

 Saya mengambil 50 dolaran, dan berkata “keep the change” pak, thank you for drving me and teach me a good lesson. Dia tersenyum dan berkata, thank you.. it’s part of my life. we are all muslim right? , we are all brother. Assalamu’alaikum. #peace (bersambung)

Disalin dari facebook beliau: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1605545879491374&id=100001079316828

Kisah inspiratif. Dari: Pak Mardigu Wowiek (bagian 1)

HANYA SEORANG PEJUANG TAHU ARTINYA KEKALAHAN 

(Inilah kisah nyata saya pribadi yang saya ungkap sedikit hanya untuk menunjukan saya manusia biasa yang pernah kalah)

Mas, demikian suara keras ibu saya memanggil saya ketika baru masuk rumahnya.

Dalem bu, demikian saya menjawab kebiasaan saya ketika di sapa olehnya. 

Mau nanya mas, surat tanah dan rumah ibu kata adek ada di mas wowiek ya? Ini adalah suara ibu saya 8 tahun lalu ketika sedang bertandang kerumahnya di bilangan Halim Jakarta timur. 

Saya bertanya kembali, surat-surat rumah ini bu?

Iya, jawabnya sambil menyiapkan minuman kesukaan saya es teh manis pakai merek kampung teh Potji kesukaan saya. dan dilanjutkan komentarnya, kata adek , mas yang pegang.

Sebuah “kode” keras saya dapatkan mendengar kata “kata adek”. Iya kami hanya berdua dan adik saya satu, wanita tinggal di malang dengan suaminya dan anak satu.

Langsung saya jawab, iya bu ada sama aku.

O iya sudah kalau begitu, siapin ya, karena ibu mau jual rumah ini dan mau pindah saja dari Jakarta. ballik kampung ke pujon saja, ke malang saja lagi, khan adek juga di sana. Di Jakarta sudah ngak ada siapa-siapa ngak enak. Bapak almarhum sudah 1000 harian. Ibu mau jual saja tanah dan rumah ini. balik kampung, berladang saja, kayak dulu lagi.

Ibu saya nyerocos bercerita keinginannya dan saya hanya satu hal, di kepala saya mencoba mengingat “dimana surat rumah ini”. aslinya, saya tidak tahu tetapi adik saya berkata “ada di mas wowiek” itu kode bagi saya.

Iya bu, heeh, aku setuju. Mendingan ke malang, udara bersih, suasana asri dan ngak seperti Jakarta yang macet, bising, kasar dan udara kotor ngak baik buat kesehatan.

Ibu berkata, kebetulan tetangga sebelah sahabat ibu mau beli rumah ini , katanya buat tinggal anaknya supaya pada ngumpul. Mungkin minggu depan transaksi mas. Siapin ya dokumennya.

O iya bu, siyaaaap, hanya itu komentar saya sambil meneguk es teh manis favorit saya. manisnya ngak terlalu manis seperti kesukaan saya. dinginnya yang saya sukai. Ibu tahu sekali takaranya yang saya sukai.

Saya tinggal di bilangan selatan Jakarta, ibu di Jakarta timur. Setiap kesempatan saya mengunjungi beliau kalau beliau sedang di Jakarta namun selama menunggu acara hajatan 1000 harian ayah berpulang, ibu banyak di malang, di rumah adik.

Dan ketika ibu di Jakarta saya menginap dengan keluarga plis cucu cucunya yang pasti senang eyangnya yang cerewet ada di Jakarta. dan ketika hari itu saya mendatangi ibu, kebetulan sendirian. Jadi kami bisa berbicara berdua.

Selang beliau ambil wudlu untuk sholat saya mengambil kesempatan menelfon adik saya di malang. Karena saya sudah sholat dzuhur sebelum tiba di rumah ibu.

Saya naik ke lantai dua dan berbicara kepada adik saya, dek…itu surat tanah bagaimana ceritanya?

Adik saya tanpa jeda langsung bercerita, begini mas, aku dapat surat beberapa bulan lalu dari bank. Ternyata surat tanah dan rumah bapak ibu ini di jaminkan kebank dengan nilai 80% dari nilai rumah 3 tahun yang lalu, tepat 3 bulan sebelum bapak meninggal.

Sama siapa di jaminkannya?

Bapak almarhum yang jaminkan asset rumah sebagai avalis. Yang pinjam perusahaan bapak sama mitra nya orang singpura Julian Kho namanya.

Ketika di jaminkan, selang kemudian bapak almarhum.

Rupanya Julian culas mas, dia tidak pernah bayar cicilan dan rumah ini sejak pertama di gadaikan tidak pernah di cicil bayaran. Sekarang sudah “call 5” dan akan dilelang 3 bulan lagi dan juga sebuah fakta menyakitkan bahwa nilai bunga serta pokok sudah 2 kali lipat. Harus bayar dua kali lipat kita.

Mendengar informasi ini darah saya memuncak dan asli saya marah, marah sekali.

Bajingan tuh orang singapura, segala sumpah serapah keluar dari mulut saya. gemetar badan saya menahan amarah. 

Maassss, di mana? Terdengar suara ibu di bawah memanggil saya.

Dalem bu!! Saya jawab cepat setalh menutup telpon dengan adik saya, dan berkata sebentar bu, sholat dulu. Saya segera ke mamar mandi di atas dan menyiram muka saya dengan air, dan wudhu. Saya sudah dzuhur namun saya harus bersandiwara pada ibu saya kala itu, saya ini ngak tahu harus lakukan apa karena bingung. Lalu saya berkata, sebentar bu mas wowiek sholat dulu.

Saya ngak tahu ibu mengartikan sholat dzuhur atau apa, pokoknya saya hanya mau ambil jeda sesaat. Tak mungkin saya memperlihatrkan wajah saya yang merah. Mata saya yang nanar, tangan saya yang menggenggam erat karena emosi.

Saya pun sholat, sholat hajat. Intinya saya menjaga jarak sesaat dan munajat.

Sayapun turun setelahnya, wajah murka saya mudah-mudah tidak terbaca oleh ibu. Bafas saya pun sudah reda.

Tak lama duduk di bawah depan taman dekat kolam koi, sang ibupun bercerita niatnya membeli lahan apel dan lahan jeruk dan niatnya berladang seperti dulu. Sewaktu masa kecilnya dulu. Ceritanya seru, semangat berapi-api dan ini menyenangkan sekali melihat ekspresi ibu seperti ini. mungkin karena sejak ayah almarhun 1000 hari sebelum ini ibu ibarat layangan putus, sesekali masih menangis karena kehilangan soulmate nya yang telah di tempuh hidup bersama selama 42 tahun. 

Setelah banyak cerita saya pamit dan bertanya jam berapa pesawat besok berangkat ke malang, karena saya akan antar ke bandara. Singkat cerita saya pamit dan pembantu di rumah ibu 2 orang menyiapkan segala kegiatan ibu merapihkan barang-barang.

Karena kurang dari 7 hari lagi transaksi dan kurang dari 30 hari segala perabotan di bawa pindah kemalang.

Dalam perjalan menuju rumah saya, kepala saya berisi ribuan lintasan pikiran. Dari pikiran jahat hingga pikiran mulia. Tetapi 90% rasanya bakal criminal, pikiran jahat mendominasi saya.

Saya akan cari Julian kho, walau di singapura.

Tetapi saya juga harus ke bank yang akan melakukan lelang atas rumah tersebut, dan pastinya ibu tidak boleh tahu.

Malam berlalu tanpa saya nikmati. Paginya saya ke bank di wilayah warung buncit. Pejabat bank menjelaskan bahwa nilainya dengan bunga berbunga menjadi 2 kali lipat dari nilai pinjaman.

Saya pun menjelaskan saya akan bayar tetapi tidak mungkin kalau bunga saya bayar. Saya minta hair cut di lakukan, yaitu bayar pokoknya saja. Yang mengejutkan saya ternyata harga rumah tersebut value nya waktu di jaminkan di atas nilai rumah tersebut. Apreisal value nya naik hampir 50%. Jadi walaupun angkanya sudah di potong bunga , ke pokoknya saja, angka nya mencapai 10 digit juga.

Persis dengan harga yang akan terjadi transaksi. Persis. Jadi intinya kalau punya hutang di bank setelh hair cut di setujui pun dan rumah itu di jual, tidak ada sisa alias, seluruh nilai rumah akan hilang untuk menebus harga rumah tersebut.

Bisa di bayangkan ibu kita yang kita cintai kehilangan pasangan hidupanya dan 1000 hari kemudian harus kehilangan seluruh asset harta sisanya yang seharusnya bisa untuk menikmati hari tuanya.

Saya terdiam. Asli saya terdiam. Saya hanya keluar satu kata, pak saya bayar, saya minta hair cut, sudah 3 tahun tidak ada kepastian saya ahli waris mengatakan saya akan bayar, asal hair cut. Saya bicara panjang lebar dan satu hal pesan yang saya sampaikan, saya tahu apa yang say aharus lakukan dan saya kenal dunia bank, seberaoa bajingannya bank saya kenal. Intinya, jangan main sepihak, saya manusia yang serba penuh keterbatasan. 

Di desak seperti ini seharian, sampai ke direksi, saya berikan personal garansi boleh cek reputasi saya, saya bayar asal “hair cut” dan di setujui. Saya boleh menarik nafas elga sedikit, walau masalah belum selesai.

Sebagai pebisnis, uang “idle” itu langka, sebenarnya saya tidak pegang unga senegitu nilainya. saya 8 tahun yang lalu semua lagi menaman. Tidak mungkin saya buang atau jual karena semua lagi bergerak.

Saya kejar Julian pun menurut saya tidak akan bisa menyelesaikan masalah saya dalam waktu dekat. Interpol mudah mencarinya namun melihat gelagat seperti begini, ini masalah panjang. Tidakan kriminalnya pasti saya kejar. Tapi sekali lagi, saya tidak punya “luxury” waktu. Harus buat keputusan cepat.

Bagi saya, menyelesaikan masalah ibu jauh lebih penting. Waktu hanya tingal 6 hari lagi. Setiap detik berjalan, saya tegang.

Apa pilihan saya? 

Mengatakan sebenarnya kepada ibu? Bu maaf, harta ibu di jaminkan dan tidak bisa di tebus. Harta ibu habis tidak bersisa. Iya saya harus bicara begitu? Yang pasti mengatakan sebenarnya akan membuat ibu jatuh. Saya tahu sekali ibu.

Atau alternative kedua mencari Julian dan memaksanya membayar? Tetapi bagaimana mencarinya? Atau pilihan terakhir : membayar menebus dokumen tersebut namun saya tidak punya di tangan semua itu. Kurang.

Kepada siapa saya mengadu? Kepada siapa saya meminta pertolongan? Seperti semua sahabat tahu, ternyata pilihan ada di diri kita sendiri bener khan?

Ada 3 pilihan yang di ambil dan harus di lakukan salah satunya, segera.

Karena saya terdesak, saya pilih, yang kedua. Saya cari Julian. Saya punya akses untuk hal itu dan setelah mencek imigrasi “confirm” dia sedang tidak di Indonesia, dia di luar . Bisa jadi juga tidak di singapura. Saya cek Interpol dengan akses saya, dia ada di singapura. Tanpa pikir panjang, saya berangkat langsung ke singhapura bawa badan dengan passport khusus.

Hari kelima sebelum transaksi saya tiba di singapura pesawat siang. Sendirian.

Saya sudah dapat alamatnya, saya kejar. Di rumahnya tidak ada, ada di kantor saya kejar juga. Lagi keluar juga, saya balik lagi kerumahnya saya tunggu di sekitar rumahnya. hingga malam sekitar jam 10an belum juga datang. Karena emosi, saya grasak grusuk, enath iblis apa bersama saya, saya sangat murka dan tersu memompa amarah saya. rasanya saat itu Saya sudah tidak ada takutnya sama sekali.

Dan setengah sebelas an malam, seorang tinggi besar umuran badan setengah bungkuk keluar dari mobil. Ahh ini dia si Julian. Keluar pintu obil dia berjalan kea rah rumahnya dari car park dan ketika hendak masuk di halaman rumahnya yang kecil. Saya pun menyapa, hei mr Julian!!

Dia terperangah mendengar panggilam keras tersebut. Kami saling kenal dan saya yalin di ahafal suara saya. Saya tahu dia, dan dia tahu siapa saya.

Wajahnya menatap saya sekilas dan melihat saya melaju cepat kearahnya hingga jarak hanya 2 meter tepat di depan mobil dan halaman rumahnya. Dia tahu sekali saya sangat emosi.dan bisa melakukan apapun atas nama kebenaran versi saya.

You know why I am here? Saya berkata dengan kalimat sinis dan dengan anda intonasi marah di tambah suara saya keras.

Yes, katanya dengan lugas dan matanya tidak menatap saya lagi.

I need no answer, give back all my father money and you are still the same as it is. Saya langsung mengancam bayar seluruh uang ayah saya, dia akan menjadi manusia yang sama seperti sekarang.’

Dia menarik nafas dan berkata, saya tidak ada uang , I don’t have the money, all in project and its don’t run well.

Saya menahan tangan saya namun tetap saja tangan saya naik sedikit dan dia tahu gerakan itu dan mencoba menghindar. Saya tidak sampai menghajarnya namun gerakan itu sudah nyaris terjadi. Saya bukan jagoan bela diri apapun, namun saya bukan orang normal saat itu. Emosi saya memuncak sangat ingin membunuhnya.

Tak lama di jendela rumahnya nonggol wajah ibu tua, saya rasa istrinya. Mungkin terganggu dnegan diskusi kami dan suara saya yang keras pasti terdengar.

Saya pun menatap wajah tua wanita tersebut yang pucat, yang agaknya sedang sakit.

Saya berkata, are you Julian wife? 

Diangguk olehnya dan saya pun mendekat kearah jendela dan berkata, you know that your husband stealing my father money ? saya berkata keras dengan niat seluruh tetangga agar mendengar dnwegan tangan menunjuk ke Julian.

Wanita paruh baya itu menatap saya dan menggelengkan kepalanya.

Saya berkata ke Julian, hei you, Julian, I wan you admit that you stole my father money? You are aware that loan that you take with my father asset pledge to the bank you never paid a penny, that not by accident that you are intentionaly stealing my father money. itu niat kamu dari awal mengambil uang tersebut, itu mencuri uang ayah saya.

Dia terdiam, Julian terdiam. Istrinya terdiam. Dan saya pun pasang muka marah kea arah keduanya. 

Tak lama kemudian wanita paruh baya itu menutup mulutnya dan batuk ngegerowok keras ekali, kemudian menutup tirai jendela, dan terlihat bayangan dia berjalan kedalam dan kembali batuk sangat keras dan terdengar suara lirihan darinya, help me…

Julian bergegas masuk saya pun perlahan mengikuti dari belakang dan melihat sang istri sedang setengah membungkuk, dan muntah, muntah darah segar.

Saya shock!!

Sang istri di papah Julian ke tempat tidur dan Julian menelpon emergency line.

Saya mundur keluar rumah perlahan hanya melihat dari kejauhan, disisi lain saya sangat murka, disisi lain saya kasihan, disisi lain saya tidak tahu harus melakukan apa, karena bukan sebuah peristiwa yang umum terjadi.

Saya hanya bertanya ke Julian , what’s happened?

Julian berkata, She was sick, she got cancer, setelah berkata cepat dia kembali sibuk mengurusi bekas darah di lantai dan bergegas mengurusi sang istri.

Saya berdiri mematung di tepi jalan dan tak lama ambulan datang. Semua berlangsung cepat, kira-kira kurang dari 15 menit kemudian tinggal saya sendirian. Rumah Julian di tinggal masih dalam keadaan tidak di kunci, kosong. Julian dan istrinya naik ambulan ke rumah sakit.

 Saya lunglai di negeri orang. Hari berlalu dengan cepat, saya menatap jam sudah menunjukan waktu tengah malam dan menunjukan satu hal yang pasti bahwa 4 hari lagi menuju deadline sisi kenyataan lain menunggu keputusan. #peace (bersambung)

Dicopas dari facebook beliau:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1604206516291977&id=100001079316828

​MEMBAYAR HUTANG KEPADA SYAIKH RABBANI (Bagian Kedua)

Oleh: K.H. Yahya Cholil Staquf

Syahidnya Syaikh Rabbani adalah tanggungan (dzimmah) atas Nahdlatul Ulama. Beliau terbunuh karena keterlibatan beliau dalam inisiatif yang dibuat oleh Nahdlatul Ulama. Dan beliau terlibat karena diminta oleh Nahdlatul Ulama. 

Nahdlatul Ulama berhutang nyawa kepada Syaikh Rabbani!

Tapi NU tahu, tidak ada yang lebih diimpikan oleh Syaikh Rabbani selain perdamaian dan keselamatan rakyat Afghanistan yang teramat beliau cintai, demi siapa beliau rela mempertaruhkan nyawa. Maka Kyai As’ad Said Ali pun tidak berhenti menempuh ikhtiar menuju terwujudnya impian Syaikh Rabbani itu. Kyai As’ad melanjutkan hubungan intensif dengan para pemimpin Afghanistan, terutama ulama-ulama mereka.

Kyai As’ad juga mengatur suatu kegiatan berkala yang rutin berupa pertukaran kunjungan antara ulama Afghanistan dan ulama NU, sekurang-kurangnya setahun sekali. Hingga kini, walaupun beliau tidak lagi menduduki jabatan apa pun di PBNU, beliau tidak berhenti mengatur dan memfasilitasi kunjungan wakil PBNU ke Afghanistan. Yang terakhir, beberapa bulan yang lalu, Kyai Abdul Ghofur Maimoen yang dikirim kesana. Semua atas biaya dari Kyai As’ad. Dirogoh dari kantong pribadi beliau sendiri!

Keperdulian Kyai As’ad kepada Afghanistan tidak bertepuk sebelah tangan. Para ulama Afghanistan melihat secercah cahaya diujung lorong gelap yang panjang. Dan mereka menyambutnya dengan gairah harapan yang menyala-nyala dan dengan keyakinan yang mengkristal akan rahmat yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama! Pada 25 Juni 2014, mereka menyatukan tekad diantara mereka dan mendeklarasikan organisasi baru wadah persatuan mereka, yang diberi nama: NAHDLATUL ULAMA AFGHANISTAN!

Dengan organisasi itu, mereka melanjutkan perjuangan untuk perdamaian. Demi masa depan umat mereka, rakyat Afghanistan yang mereka cintai hingga ke sumsum tulang. Amanat keulamaan mereka. Dan mereka terus berbesar hati bahwa Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia tidak akan pernah berhenti mendukung mereka dan menyediakan apa pun yang mampu disediakan untuk membantu mereka. Tidak akan berhenti selamanya. Tidak, selama masih ada Kyai As’ad Said Ali, dan orang-orang yang berbagi kasih-sayang dengannya. Orang-orang yang memahami hutang Nahdlatul Ulama kepada Syaikh Rabbani!

Lebih dari itu, Syaikh Burhanuddin Rabbani dibunuh dengan tanpa haqq. Membunuh satu nyawa dengan tanpa haqq sama halnya membunuh manusia seluruhnya. Maka nyawa Syaikh Rabbani senilai nyawa seluruh umat manusia. Nahdlatul Ulama berhutang kepada Syaikh Rabbani bukan hanya nyawa beliau sendiri saja, tapi keselamatan seluruh ummat manusia!

Maka, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nahdlatul Ulama bertekad untuk melunasi hutang itu sebaik-baiknya. Nahdlatul Ulama mengerti bahwa Afghanistan hanyalah cuwilan kecil dari bencana raksasa yang menimpa seluruh peradaban umat manusia hari ini. Yaitu konflik dan antagonisme yang mengatasnamakan segala yang agung bagi manusia, termasuk agama, justru untuk membunuh belas-kasih dan tepa-selira kepada sesama.

Nahdlatul Ulama tidak berhenti hanya dengan Afghanistan saja.

(Bersambung