ternyata orang tua itu bapak dari dosen BasDat

Buat mahasiswa P.TIK UNJ pasti Penasaran ya dengan judulnya?  Tapi sebelum mengarah ke cerita utama ada alur kronologisnya ni yang perlu di ketahui.

Malam itu malam minggu, malam yang mengharuskanku menyelesaikan semua tugas kuliahku jika ingin besoknya bisa pulkamp melepas rindu dengan keluarga. Seusai Sholat maghrib aku langsung duduk di depan komputer temanku, karena temankulah yang mempunyai akses internet, sedangkan tugasku sangat bergantung dengan internet, jika tidak maka akan sangat sulit tugasku terselesaikan, tugas membuat modul harus lengkap di sertai gambar dan harus pula di posting ke blog, tidak hanya itu, setelah poin tadi terselesaikan maka shoft copynya juga harus di kirim via email, dan di print pula. Huuwft..sungguh tugas yang terasa menguras otakku saat itu. Adzan isya terdengar keras di telingaku_karena memang Mushola yang tidak jauh dari kost ini speakernya persis menghadap ke kost, membuat seakan meneriakiku untuk jangan sampai meninggalkan Sholat. Seusai Isya temanku pamit akan mengantarkan do’i pulang. Wah kesempatan, ku pinjamlah komputernya untuk mengerjakan tugas, ya walaupun seringkali ku pakai tanpa pamit.hehe…. tapi setidaknyakali ini pamitlah, karena tugsku memang tidak sedikit.. 

Waktu berjalan jarum pendek pada jampun terus menuju angka selanjutnya. Tugas masih belum kelar, sekitar pukul 23.00 WIB temanku pulang dari tugas pengorbanannya sebagai seorang pacar. Namun tugasku baru sebagian yang berhsil aku selesaikan, jadi gak enak sama temenku takut kalau2 dia mau pakai untuk chat dengan pacar barunya, tapi ternyata temanku ini sangat pengertian. Melihat mukaku yang tampak spaneng di depan komputer kayaknya dia paham kalau aku sedang di kejar deadline, seakan memberikan isyarat untuk silahkan lanjutkan kesibukanku temanku langsung merebahkan badanya dan tertidur. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 lebih tigapuluh menit dini hari, masih ada satu modul yang belum terselesaikan, tubuh sudah minta untuk di rebahkan, begitupun dengan mataku yang tak kuat lagi ingin di pejamkan. Aku putuskan untuk memenuhi keinginan dzohirku kala itu, ya aku akui otakku pun sudah panas. Aku tertidur sampai adzan subuh membangunkanku. Tidurku serasa sangat cepat, alunan suara adzan yang terdengar keras di telingaku mengingatkan pada janjiku sebelum tidur bahwa aku harus melanjutkan tugas PTKku setelah subuh. Akupun bangun dengan keadaan nyawa serasa belum kumpul.hehee…ya karena aku masih merasa sangat ngantuk kala itu. Seusai Sholat subuh kembali ku lanjutkan tugasku. Naas, aku seperti di tinggalkan dewi fortuna, begitu sulit aku mencari referensi untuk tugasku yang satu ini, aku merebahkan tubuh karena merasa lelah dan dongkol, aku sudah ingin pulang dan hari itu prediksiku tugas bakal kelar dan sebelum beli tiket akan ku temui dulu orang yang aku sayang_karena memang sebelumnya aku sudah berjanji akan menemuinya sebelum pulkamp nanti_ aku rebahkan badanku untuk melapas dongkol yang bergolak di otakku. Sampai akhirnya si empunya komputer menegurku dengan nada basa-basi. Ya, aku tahu kalau dia sudah ingin menggunakan komputernya untuk membuka akun jejaring socialnya, dengan nada mempersilahkan aku bilang tinggal sdikit lagi, silahkan saja kalau mau di pakai. Benar saja firasatku, dia langsung membuka akunnya dan larut dengan teman ngobrolnya di chart, ya aku paham pasti sedang chart dengan pacar barunya, wanita yang memang di kejarnya cukup lama. Kembali ku rebahkan tubuhku sejenak, eh ternyata aku malah tertidur entah berapa jam lamanya, aku terbangun karena telpon genggamku berdering tanda ada sms yang masuk, sms dari orang yang aku beri janji. dan isi smsnya adalah menanyakan janjiku apakah akan terealisasi atau di pending untuk kesekian kalinya, aku yakinkan dia bahwa aku pasti menemuinya. Aku lanjutkan kembali tugasku, sungguh bersyukur ternyata temanku punya file tentang tugas yang aku sulit untuk menyelesaikannya, tanpa pikir panjang langsung aku baca dan sebagian aku copy paste untuk mempercepat waktu.

Tepat jam sebelas siang aku berhasil mengirim tugas ke email dosen, aku cek kembali blogku apakah juga postinganku sudah berhasil di akses, syukurlah semuanya beres, pikirku waktu itu. Tinggal aku print out dan ku serahkan pada temanku untuk di berikan pada PJ PTK, aku copy file yang ada di komputer ke flashdiskku,ternyata yang tersalin adalah file yang salah. Aku jadi berfikir jangan-jangan file yang aku kirim ke email dosen juga salah, aku cek kembali supaya tidak merepotkanku nanti. Sial, benar saja renyata aku teledor karena teburu-buru, aku kirim ulang file yang seharusnya di kirim. Dan alhamdulillah terkirim. Ku kirim message pada my honey bahwa insya allah jam satu siang aku siap meluncur kesana. Dia membalas dengan “titik dua negatif kurung tutup”. Aku bergegas mandi dan sholat dzuhur. Selesai dengan itu semua aku langsung mengambil kontak motor, flashdisk, dan uang secukupnya, Aku keluarkan motor dan langsung aku slah. Bukan karena starternya mati lantas aku memakai slah, itu karena sudah 2 hari motorku aku cuekin, akhirnya aku panasain dulu sebelum aku bawa ke tempat print out.

Selesai ngprint aku langsung kembali ke kost, ku masukan motorku ke dalam kost aku parkir di ruang dekat dapur, safety first donk.. karena pulkamp kali ini aku tidak bawa motor. Aku naik tangga menuju kamarku, ya karena kamarku di atas, kalu di bawah ada cewe’nya.hehe…tapi gak tau pastinya sih, Cuma kadang-kadang aja aku liat. Langsung aku ambil tas yang memang sudah aku persiapkan ugo rampenya untuk ku bawa pulkamp.hehe..pasti pembaca gak ngerti apa itu ugo rampe, ya kan ya kan?  teman satu kamarku ternyata lagi tidak ada di kamar, entah pergi keman aku gak tau, tapi kemungkinan besar si pergi ke warteg pakde. aku tinggalkan message saja bahwa aku pamit akan berangkat. Ku pakai sepatuku dan ku gendong tasku lalu bergegas ke halte UNJ untuk menunggu bis mayasari no. 84. _Sebagian dari pembaca mungkin tahu bis itu tujuan mana_ Lama aku menunggu bis tak kunjung datang, aku sms temanku yang biasa menggunakan jasa bis mayasari no. 84 untuk berangkat ke kampus, katanya kalau hari sabtu dan minggu akan sangat jarang bis 84 yang lewat. Huwft….untuk beberapa saat semangatku berubah menjadi pesimis dan membuatku berfikir apakah harus mencari alternatif lain supaya tidak lama untuk menuju tempat tujuan. Hmmm…sungguh menggalaukan. Tapi aku putuskan untuk tetap menunggu bis dengan no. 84, karena memang hanya itu yang ku tahu, dari pada ntar nyasar, lebih lama atau dan sebagainya mending aku tunggu saja bis yang sudah pasti mengantarku ke daerah yang aku inginkan. Alhamdulillah saat otakku sibuk membuat hatiku bergumam bis yang aku tunggu-tunggu datang juga, langsung aku beranjak dari dudukku dan ku lambaikan tangan tanda bahwa aku menginginkan bis tersebut berhenti dan membawaku ke terminal depok. Aku naik dengan tas di pundak kananku sambil tangan kiriku mengapit jaket, langsung ku arahkan pandanganku mencari tempat duduk yang sesuai manah, jalan ke tengah sampai akhirnya duduk di samping kaca deretan 3 kursi yang masih kosong.

Kondektur melantangkan suaranya memberi tahu bahwa yang turun si lenteng agung untuk bersiap mendekat ke pintu depan, mendengar itu aku langsung mengambil HP dari kantong kiriku dan ketik pesan baru yang berisi info seperti yan kondektur sampaikan tadi, ku kirimkan ke my sweetheart dengan harapan dia mulai bersiap menjemputku di terminal.

Oke, cerita tentang aku dan wanita yang menjemputku di terminal kita skip saja, dan langsung menuju ke cerita utama.

Berawal dari rasa iba ketika melihat seorang tua renta berada di sebuah sekretariat agen bus Sinar Jaya, jadi teringat kakekku yang juga sudah tua, ya mungkin seumuran dengan sosok yang aku lihat waktu itu, laki-laki dengan umur sekitar 70 tahun sedang duduk di depan loket dengan pandangan yang mengarah kesana kemari melihat orang-orang yang juga sedang menunggu kedatangan bis jurusan sesuai yang tertera di tiket masing-masing. Karena penasaran akhirnya akupun mendekati sang kakek berharapa dapat menanyakan apa yang terbersit di benakku. Setelah berada persis di samping sang kakek tak disangka kakekpun mendahului pembicaraan dengan bertanya padaku, beberapa pertanyaanpun aku jawab dengan bahasa krama jawa, nampaknya kakek sudah paham kalau orang-orang yang ada di situ adala orang-orang yang akan pulang ke jawa. Hingga akhirnya tiba juga saat aku menanyakan semua yang terbersit di hati. Ternyata benar dugaanku, sang kakek sendirian dan ternyata punya tujuan yang sama denganku. hingga akhirnya kakek itu menanyakan kegiatanku di jakarta dan akupun menjawab dengan jujur bahwa aku adalah mahasiswa UNJ, dengan sigap si kakek langsung menanyakan fakultas apa aku di UNJ, dengan sigap pula aku menjawaba Falultas Teknik. Sungguh suatu yang mengejutkan bagiku, si kakek dengan muka bangga mengatakan bahwa anaknya dosen FT di UNJ, keterkejutanku langsung ku verbalkan dengan bertanya “siapa” pada sang kakek, sebuah nama yang tak asing bagikupun trdengar dari mulut renta sang kakek “Widodo”, sungguh tiada terduga ternyata sosok yang berada di sampingku ini adalah orang tua dari salah satu dosen yang sangat aku kagumi, kagum karena intelegensinya yang patut diacungi jempol. Obrolanku dengan sang kakekpun berlanjut dengan hangat, aku jadi tahu lebih banyak tentang Pak Widodo_dosenku_ dari orang tuanya sendiri. Sungguh sangat membakar motivasiku ketika sang kakek menceritakan riwayat dirinya dan anak-anaknya, yang ternyata sebelum mengajar di UNJ Pak Widodo adalah lulusan STAN, sebuah sekolah tinggi kedinasan yang mahasiswanya sudah di jamin bekerja dengan gaji yang lumayan, dan memang tak gampang untuk bisa masuk ke sekolah tinggi tersebut, karena aku adalah slah seorang yang gagal ketika mengikuti ujian masuk kesitu. Anak pertama dari dua bersaudara ini manamatkan SMAnya di SMA N 01 PEMALANG dan SMPnya di SMP N 02 PEMALANG, kedua sekolah itu adalah sekolah favorit di daerahku. Setelah lulus dari STAN beliau bekerja di tempat yang ternyata tidak beliau sukai, kenapa tidak suka? Rahasia ah..hahha..😀 karena tidak betah dengan tempat kerjanya, ambil kerja beliau sekolah lagi di UNIVERSITAS GUNADARMA mengambila jurusan komputer sampai akhirnya melanjutkan S2.nya di UNIVERSITAS INDONESIA, dan kini menjadi Dosen di STATE UNIVERSITY OF JAKARTA. Bis yang akan mengantarkan kita ke tujuanpun datang, sang kakek beranjak dengan langsung menjinjig tasnya, dan akupun mencoba membantu dengan membawakan tas kresek perbekalan sang kakek, sambil berjalan menuju bis beliau sempat mengutarakan agar kita bisa duduk satu kursi, kitapun naik dan ku persilahkan si kakek untuk naik terlebih dahulu namun sang kondektur mengatakan bahwa tempat duduk sudah diatur sesuai yang tertulis di tiket. kitapun masuk bis, ku lihat tiketku untuk melihat di korsi nomor berapa aku harus duduk. aku berusaha mencarikan tempat duduk sang kakek dengan meminta tiket untuk melihat di nomor berapa harusnya beliau duduk, ternyata di no. 46 sempet bergumam dalam hati “no. Motor pembalap idolaku inimah” sambil tersenyum dalam hati dan ku kembalikan lagi tket tersebut pada sang kakek, setelah hampir sampai ke pintu belakang bis akhirnyaku temukan juga no. 46. Akhirny setelah ku persilahkan sang kakek duduk aku melangkah ke korsiku di nomor 22 yang sudah ku temukan tadi saat mencari tempat duduk sang kakek. Sempet mengkerut dahiku karena tempat dudukku sudah ada yang menempati, kutanyakan tiket si bapak yang dengan semena-mena menempati tempatku. Ternyata mungkin dia ada masalah dengan penglihatannya, no 28 da bilang no 22, entah tidak bisa baca atau bagaimana aku tidak tahu. Yah, dengan sedikit nego dengan di bantu penumpang lain akhirnya aku mendapatkan korsiku. Dan inilah ceritaku pulkamp kemaren. Mana ceritamu? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s